.......

Semua kehidupan ada dibawah payung yang Tuhan ciptakan yaitu langit
semua ini hanya untuk sekedar menghiasi apa yg ada dibawah payung tersebut agar terasa lebih indah pada waktunya
Ingatlah tak ada hal yang paling indah dari hidup selain kehidupan itu sendiri...hiaslah dan percayalah bahwa Tuhan akan selalu bersama kita

Rabu, 15 Desember 2010

Usia Kita, Pencapaian Kita

Dia yang melakukan hal terbaik sepanjang hidupnya

Takkan pernah merasa takut tua

Seorang kenalan memberi hadiah kepada saya. Sebuah buku berjudul ”Tuesdays with Morrie”. Dalam buku tersebut dikisahkan seorang profesor mengisi hari-hari terakhir hidupnya dengan mengajari mantan muridnya tentang berbagai makna kehidupan. Mereka bertemu setiap hari Selasa. Dalam setiap pertemuan, mereka berbicara banyak hal. Tentang pekerjaan, perkawinan, kematian, dan sebagainya. Suatu Selasa, topik yang dibahas adalah tentang usia.

”Pernahkah Anda merasa takut tua, Pak?” tanya sang murid.

Profesor tersenyum. ”Justru aku senang menjadi tua.”

”Senang?”

”Ya,” kata Profesor. ”Alasannya sederhana. Saat usiamu bertambah, kau makin banyak belajar. Kalau usiamu tetap remaja, kau akan terus cuek seperti ketika remaja. Dengan bertambahnya usia, kau tidak hanya menjadi rapuh, tapi juga tumbuh. Kau tidak hanya mendekati mati, tapi juga paham bahwa kau akan mati. Hidupmu menjadi lebih baik karena hal ini.”

”Benar,” kata sang murid. ”Tapi kalau menjadi tua itu menyenangkan, kenapa orang selalu bilang ’Oh, ingin sekali aku kembali muda.’ Tak ada orang yang pernah bilang, ’Oh, andai umurku 65.’”

Profesor tersenyum. ”Itu menunjukkan bahwa orang tersebut tidak puas dengan hidupnya. Hidupnya tidak bermakna. Sebab kalau hidupmu bermakna, kau takkan ingin kembali ke belakang. Kau ingin terus melangkah ke depan. Kau ingin melihat lebih banyak hal, melakukan lebih banyak hal. Kau takkan menundanya sampai usia 65.”

”Lalu, pernahkah Anda merasa iri kepada orang muda?”

”Tentu saja pernah. Tidak mungkin orang tua tidak merasa iri kepada yang muda. Orang muda bisa berjalan bebas, berenang sepuasnya, melakukan apapun yang mereka suka. Sedangkan orang tua sepertiku hanya bisa berbaring tak berdaya. Tapi yang harus kulakukan adalah menerima diri apa adanya. Aku harus bisa menemukan kebaikan dan keindahan dalam kehidupanku yang sekarang.”

Kemudian profesor tersebut melanjutkan, ”Aku pernah berusia 3 tahun, 5 tahun, 30 tahun, 50 tahun. Aku telah melewatinya dan tahu persis bagaimana rasanya. Aku senang ketika menjadi seorang anak, juga senang ketika menjadi orang dewasa yang bijak. Haruskah aku merasa iri pada usia muda bila aku sendiri pernah mengalaminya?”

Sang murid pun menganggukkan kepala.

***

Sahabat, ketika hari ulang tahun tiba, banyak orang menyambutnya dengan perasaan suka cita. Tapi tak sedikit yang justru diliputi gundah gulana. Bukan karena pikiran semacam, ”Duh, sebentar lagi hari jadi nih, harus nraktir padahal dompet sedang paceklik.” Namun karena kita tidak merasa istimewa dengan bertambahnya usia. ”Bagaimana saya akan merasa istimewa, bila di usia yang bertambah, kehidupan saya tak jua berubah?” Itulah mungkin yang mampir di benak kita.

Dalam rentang setahun, ada saat-saat kita merenungkan usia. Namun ada saat-saat kita enggan melakukannya. Kita merasa takut, cemas, gelisah menyadari waktu terus melesat, umur meningkat, sedang target keberhasilan belum juga didapat. ”Bagaimana ini? Umur tambah tua, belum punya apa-apa.” Kita jadi menyalahkan waktu yang tak mau berhenti berdetak barang sedetik saja. ”Andai aku bisa kembali ke masa muda, aku akan mulai dari awal dan memperbaiki semuanya.” Nah!

Banyak orang mengeluh tentang usia, karena merasa tidak puas dengan hidupnya. ”Aku sudah 25, belum juga dapat kerja.” ”Aku sudah 30, belum juga dapat jodoh.” ”Aku sudah 35, belum juga punya rumah.” ”Aku sudah 40, belum juga kaya raya.” ”Aku sudah 45, belum juga pensiun dini.” ”Aku sudah 50, belum juga naik haji.”

Semakin bertambah usia, kita merasa semakin terbebani. Oleh apa? Oleh harapan-harapan kita sendiri. Keinginan-keinginan kita sendiri.

Disadari atau tidak, kita membuat target-target dalam hati, bahwa kalau usia segini harus sudah punya ini. Ketika target tidak tercapai, kita merasa kecewa dan mulai berandai-andai. ”Andai aku kembali ke masa kecil, aku tak perlu capek mencari duit.” ”Andai aku kembali remaja, aku tak perlu pusing mikirin kerja.” ”Andai aku tetap anak kuliah, aku tak perlu capek mencari nafkah.”

Bertambahnya usia identik dengan bertambahnya tanggung jawab, dan kita kadang malas memikul tanggung jawab itu, atau bahkan merasa tidak mampu.

Sungguh ironis, karena kalau kita flashback ke masa lalu, terkadang kita juga merasa tidak nyaman di usia saat itu. Saat kanak-kanak, misalnya, kita ingin cepat besar agar bisa keluar rumah dan mengenal dunia. Saat remaja, kita ingin cepat dewasa agar bebas dari pergaulan canggung dan kekangan orang tua. Anehnya, ketika masa dewasa itu tiba, kita bukannya bergembira, malah ingin kembali muda. ”Sungguh indah masa-masa SMA dulu,” kita pun melamun. Padahal kalau mau jujur, masa SMA tidaklah seindah itu. Kita harus berurusan dengan guru yang galak, teman yang menyebalkan, gank yang menekan, kita merasa minder dengan penampilan, ditolak cinta, dan sebagainya.

Jadi masalahnya bukan terletak pada usia yang bertambah, melainkan pada cara kita memandang hidup. Kita selalu melihat ke masa lalu, atau ke masa depan yang belum tentu. Kita tidak hidup di saat ini. Tidak menikmati saja apa yang kita peroleh saat ini. Kita terlalu sibuk melihat ke masa lain, sehingga tidak melihat betapa indahnya hari yang sedang kita jalani.

Orang-orang sukses percaya bahwa saat terbaik dalam hidup adalah saat ini. Ketika masalah muncul, segera selesaikan hari ini, sebab esok persoalan lain telah menanti. Kalau kita membiarkan masalah bertumpuk-tumpuk, kita akan stress, dan inilah sumber rasa tidak bahagia, yang membuat kita menyalahkan waktu dan usia.

Waktu bagaikan pedang. Kalau kita tidak cepat melangkah, kita akan tertusuk dan berdarah. Sikap menunda-nunda membuat kita terseret kalah. Waktu luang adalah cobaan, kalau dilalaikan, yang akan terbit adalah penyesalan. Sebagai contoh, ketika ada tugas di kantor, atau ada bisnis yang perlu diurus, kita berkata, ”Ah, besok aja. Toh besok luang.” Besoknya, ”Duh, lagi males nih, besok aja deh, toh masih ada waktu.” Begitu seterusnya. Kita menunda-nunda, tahu-tahu waktu berlalu cepat, kita belum melakukan apa-apa, kita belum dapat apa-apa. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, usia bertambah, dan kita belum juga berubah. Kita masih berjalan di tempat yang sama, belum mengalami kemajuan apa-apa, kita merasa gagal, dan usia-lah yang disalahkan. ”Huah, sudah 35 masih saja kayak begini, gaji tidak naik-naik, rezeki sulit.” Nah!

Di saat kita merasa cemas dengan perubahan usia, sebetulnya kita sedang mencemaskan diri kita. Kemalasan kita, kelalaian kita, semangat yang lemah, sikap menunda-nunda. Semua itulah penyebab kekalahan, kegagalan, dan ketidakpuasan. Seperti kata profesor di atas, keinginan untuk kembali ke usia muda mencerminkan rasa tidak puas. Kalau kita merasa puas dengan hidup, merasa telah berbuat yang terbaik setiap waktu, takkan pernah terbersit untuk kembali ke masa lalu. Kita ingin terus melangkah ke masa depan, melakukan lebih banyak hal, mencetak pencapaian berikutnya, mengecap keberhasilan berikutnya. Semakin tua, kita semakin bersemangat, karena semakin banyak yang kita dapat. Seperti kata pepatah, makin tua makin ranum. Makin tua makin kaya dan bijaksana. Kaya di sini tidak selalu harus berarti materi, namun juga tabungan amal baik.

Sahabat, ada sebuah lagu yang selalu mengingatkan saya untuk tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Lagu ini dinyanyikan Simple Plan, dan sering saya hidupkan terutama bila sedang memberikan motivasi diri.

Procrastination running circles in my head

While you sit there contemplating

You wound up left for dead

Life is what happens while you're busy making your excuses

Another day, another casualty

But that won't happen to me

No, we're not gonna waste another moment in this town

And we won't come back

The world is calling out

We'll leave the past in the past

Gonna find the future

If misery loves company

Well, so long, you'll miss me when I'm gone

Yang artinya: ”Sikap menunda-nunda berputar di kepalaku. Saat kau duduk di sana mengeluh, kau terluka dan merapuh. Hidup adalah apa yang terjadi saat kau sibuk membuat banyak alasan. Makin hari kau makin jadi korban. Tapi itu tak akan terjadi padaku. Tidak, kita tidak akan membuang waktu lagi di sini. Dan kita juga takkan kembali. Dunia telah memanggil. Kita akan meninggalkan masa lalu, biarlah itu berlalu. Mari kita temukan masa depan. Bila penderitaan terus dibawa-bawa, ya sudah, selamat tinggal ya.”

Lagu ini mengajari kita satu hal: hindarilah sikap menyia-nyiakan waktu, yang akan membuat kita tidak puas dan ingin kembali ke masa lalu. Hiduplah di masa sekarang, hadapilah tantangan, dan jangan membuat banyak alasan. Kalau terlalu banyak alasan, tak satupun hal terbaik akan kita lakukan, dan kehidupan akan meninggalkan kita di belakang. Itulah kenapa saat usia bertambah, kita terpuruk dalam rasa kalah. Duh, jangan sampai!

Nah, sahabat.sebentar lagi usia saya bertambah satu. Jatah hidup saya di dunia berkurang satu, namun saya tidak ingin kembali ke masa muda. Karena apapun adanya kita saat ini, inilah hasil pencapaian kita selama ini. Usia tak ada hubungannya dengan keberhasilan, namun kerja keras kitalah yang menentukan. Apapun adanya diri kita saat ini, yeng terpenting adalah mensyukuri. Jangan sampai kita terlalu larut dalam lamunan, sehingga tidak sadar hidup ini sedang berjalan. Percayalah bahwa setiap fase usia yang kita lalui, selalu menggoreskan kisah. Jadikanlah itu kenangan indah. Kita sudah diberi waktu untuk sampai di usia sekarang, itu adalah anugerah. Tugas kita tinggal menjalani sisa usia dengan sebaik-baiknya. Dengan karya dan doa, juga amal baik untuk dipersembahkan kelak kepada-Nya.

Yuk bergembira menyambut pertambahan usia!

20 Mei 00.25 WIBB Kamar sunyi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar