Jumat, 10 Januari 2014
Senin, 21 Maret 2011
Dua Menit
Pernahkah anda meluangkan 2 menit waktu anda? Mungkin ini yang sedang anda butuhkan.
Meluangkan dua menit waktu dalam hidup untuk sebuah cerita yang (diharapkan) bisa menjadi inspirasi. Hanya dua menit, dan entah apa yang terjadi kemudian dalam hidup mereka yang mendengarkan.
Menarik untuk meneruskan pertanyaan ini pada berbagai sisi hidup.
Ya…
Pernahkah anda meluangkan dua menit waktu untuk sekedar melihat diri? Baiklah, saya pikir banyak yang menggunakan waktu lebih dari dua menit untuk memandang diri dan sikapnya. Ada yang bahkan memakai hampir seluruh waktu sadarnya untuk berkontemplasi. Dua menit tentu sangat singkat. Okay…
Pernahkah anda meluangkan dua menit waktu anda untuk berpikir sebelum melakukan sesuatu? Hmmm, saya pikir waktu dua menit untuk berpikir tentang sebuah tindakan pasti sangat singkat dan anda butuh lebih banyak menit untuk berpikir terutama untuk kegiatan-kegiatan dalam skala besar. Bahkan untuk menuliskan kritik, menyampaikan pendapat atau sekedar mengungkapkan perasaan, jelas lebih banyak detik yang terpakai untuk berpikir. Begitulah…
Pernahkah anda meluangkan dua menit waktu anda untuk berdoa? Hohoho, jangan kata dua menit. Ada yang bahkan berdoa berjam-jam untuk sebuah permohonan besar. Jadi hentikan omong kosongmu tentang dua menit itu! Maaf…
Pernahkah anda meluangkan dua menit waktu anda untuk membaca? Ckckckck, dua menit untuk membaca? Apa pula ini? Membaca itu jelas butuh lama, satu buku baru selesai dalam waktu tiga hari; itulah alasan mengapa rental buku bacaan memberi batas tiga hari untuk pinjaman satu buku dan bukan dua menit. Betul…
Pernahkah anda meluangkan dua menit waktu anda untuk mencerna isi pesan dari tiap tulisan yang anda baca? Jelas pernah!!! Saya baru bisa memberi komentar, setelah saya membaca. Kalau ada yang hanya sekedar pada sebuah buku dan tulisan orang lain dan menghabiskan waktu tidak sampai dua menit, itu jelas bukan saya! Syukurlah…
Lalu apa yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini jika anda sudah melakukan semuanya? Jelas tidak ada. Kalau toh dipaksakan ada, saya hanya mau memberi usul: Tambahkan dua menit dalam setiap waktu anda untuk hal-hal positif; melihat diri, berpikir sebelum berbuat, berdoa, membaca dan mencerna isi pesan, maka mungkin hasilnya akan berbeda. Hanya dua menit, 120 detik, siapa tahu bisa jadi lebih baik. Di belahan lain, mungkin baik untuk mengurangi dua menit waktu anda pada hal-hal yang kurang baik. Soal hasil, tentu saja menjadi domain personal. Saya tidak bermaksud menuntun siapapun, saya hanya ingin berbagai.
Satu lagi yang ingin saya bagi adalah Balancing Life Theory. Teori ini saya temukan saat jogging sore.. Teori ini saya ciptakan (kesamaan dengan teori lain hanya kebetulan belaka) dan saya namakan dalam bahasa Inggris hanya agar terlihat keren. Maksudnya kira-kira: Jika tak mampu mengurangi jumlah kebiasaan kurang baik yang biasa anda lakukan, maka perbanyak waktu untuk hal-hal baik. Resikonya mungkin mengurangi waktu istirahat anda, tetapi kalau itu hanya dua menit? Mungkin hasilnya baik. Ya, mungkin…!
Salam
Sabtu, 22 Januari 2011
Hanya Dalam 3 Hitungan
Mungkin kita hanya bisa komat-kamit hari ini. Mulut ini, sebuah visualisasi, dari kepala kami yang bekerja tanpa henti untuk membunuh keraguan yang ada dalam hati. Kalau ragu tak mati mungkin saja kita yang mati atau seumur hidup hanya bisa menyesali. Kami isi jiwa dan raga ini rangkaian titik menuju senyum tanpa henti yang akan menyebar ke semua orang nanti.
Besok, kami gerakan tubuh ini, teruslah bergerak tanpa henti karena berhenti berarti mengkhianati diri sendiri. Waktunya beraksi, tak boleh berhenti karena berhenti bergerak bisa saja berarti mati. Kami tak mau kehilangan konsistensi karena kami ingin tahu siapa diri kami. Kami coba ingatkan diri kami, "HIDUP HANYA SEKALI, KALAU TIDAK SEKARANG KAPAN LAGI?!".
Besoknya lagi, kami akan coba berbagi, agar semua tahu siapa kami. Berbagi tak akan pernah membuat kita rugi. Berbagi membuat yang sedikit menjadi berarti. Berbagi membuat kita tahu bahwa kaya adanya di hati.
Besoknya, setelah besoknya lagi. Kami harus menahan diri. Cobaan akan datang dan pergi. Dia datang tak pernah mengabari, tiba-tiba menghadang dari depan, menguntit dibelakang, atau mungkin menjepit di kanan dan kiri. Tak peduli dari mana dia datang, kita tahu, kau ada untuk menguji sejauh mana kita dapat mengendalikan diri.
Setelah semua berhasil kami lalui, senyum itu datang lagi. Terbayarlah apa yang kita kerjakan. Jadilah kami sang inti yang diikuti.
Selasa, 11 Januari 2011
Ibu
Ketika itu, Tuhan telah bekerja enam hari lamanya. Kini giliran diciptakan para ibu.
Seorang malaikat menghampiri Tuhan dan berkata lembut:
" Tuhan, banyak nian waktu yg Tuhan habiskan untuk menciptakan ibu ini ?"
dan Tuhan menjawab pelan:
"Tidakkah kau lihat perincian yang harus dikerjakan?"
01) Ibu ini harus waterproof (tahan air / cuci) tapi bukan dari plastik.
02) Harus terdiri dari 180 bagian yang lentur, lemas dan tidak cepat capai
03) Ia harus bisa hidup dari sedikit teh kental dan makanan seadanya untuk mencukupi kebutuhan anak- anaknya.
04) Memiliki kuping yang lebar untuk menampung keluhan anak-anaknya
05) Memiliki ciuman yang dapat menyembuhkan dan menyejukan hati anaknya.
06) Lidah yang manis untuk merekatkan hati yang patah, dan
07) enam pasang tangan!!
Malaikat itu menggeleng-gelengkan kepalanya " Enam pasang tangan....? tsk tsk tsk"
"Tentu saja! Bukan tangan yang merepotkan Saya, melainkan tangan yang melayani sana sini, mengatur Segalanya menjadi lebih baik...." balas Tuhan.
08) Juga tiga pasang mata yang harus dimiliki seorang modelnya?"
Malaikat semakin heran.
Tuhan mengangguk-angguk.
Sepasang mata yang dapat menembus pintu yang tertutup rapat dan bertanya:
" Apa yang sedang kau lakukan di dalam situ?", padahal sepasang mata itu sudah mengetahui jawabannya.
"Sepasang mata kedua sebaiknya diletakkan di belakang kepalanya, sehingga ia bisa melihat ke belakang tanpa menoleh".
Artinya...,
“ ia dapat melihat apa yang sebenarnya tak boleh ia lihat dan pasang mata ketiga untuk menatap lembut seorang anak yang mengakui kekeliruannya.”
“Mata itu harus bisa bicara !!”
Mata itu harus berkata: "Saya mengerti dan saya sayang padamu".
Meskipun tidak diucapkan sepatah kata pun.
"Tuhan", kata malaikat itu lagi, "Istirahatlah".
"Saya tidak dapat, Saya sudah hampir selesai"
09) Ia harus bisa menyembuhkan diri sendiri kalau ia sakit.
10) Ia harus bisa memberi makan 6 orang dengan satu setengah ons daging
11) Ia juga harus menyuruh anak umur 9 tahun mandi pada saat anak itu tidak ingin mandi....
Akhirnya Malaikat membalik balikkan contoh Ibu dengan perlahan .
"Terlalu lunak", katanya memberi komentar.
"Tapi kuat" Kata Tuhan Bersemangat.
"Tak akan kau bayangkan betapa banyaknya yang bisa ia tanggung, pikul dan derita."
"Apakah ia dapat berpikir?" tanya malaikat. lagi.
"Ia bukan saja dapat berpikir, tapi ia juga dapat memberi gagasan,idea dan berkompromi", kata Sang Pencipta.
Akhirnya Malaikat menyentuh sesuatu di pipi,
"Eh, ada kebocoran di sini"
" Itu bukan kebocoran", kata Tuhan.
"Itu adalah air mata.... air mata kesenangan, air mata kesedihan, air mata kekecewaan, air mata kesakitan, air mata kesepian, air mata kebanggaan,
air mata....,
air mata...."
"Tuhan memang ahlinya...."
MANAJEMEN MARAH
- Hanya seorang yang pemarah yang bisa betul-betul bersabar.
- Kesabaran bukanlah sebuah sifat, tetapi sebuah akibat.
- Kemarahan adalah sebuah bentuk nafsu.
- Kualitas reaksi Anda terhadap yang membuat Anda marah, adalah penentu kelas Anda.
- Kita sering merasa marah karena orang lain berlaku persis seperti kita.
- Katakanlah, tidak ada orang yang cukup penting yang bisa membuat saya marah dan berlaku rendah.
Rabu, 15 Desember 2010
Mengapa kita begitu sulit memberikan pujian ?
besar Rusia yang kebetulan lewat di depannya, langsung berhenti dan mencoba
mencari uang logam di sakunya. Ternyata tak ada. Dengan amat sedih ia berkata,
"Janganlah marah kepadaku, hai Saudaraku. Aku tidak bawa uang."
Mendengar kata-kata itu, wajah pengemis berbinar-binar, dan ia menjawab, "Tak
apa-apa Tuan. Saya gembira sekali, karena Anda menyebut saya saudara. Ini
pemberian yang sangat besar bagi saya."
Setiap manusia, apapun latar belakangnya, memiliki kesamaan yang mendasar:
ingin dipuji, diakui, didengarkan dan dihormati.
Kebutuhan ini sering terlupakan begitu saja. Banyak manajer yang masih
beranggapan bahwa orang hanya termotivasi uang. Mereka lupa, nilai uang hanya
bertahan sampai uang itu habis dibelanjakan. Ini sesuai dengan teori Herzberg
yang mengatakan bahwa uang tak akan pernah mendatangkan kepuasan dalam bekerja.
Manusia bukan sekadar makhluk fisik, tapi juga makhluk spiritual yang
membutuhkan sesuatu yang jauh lebih bernilai. Mereka butuh penghargaan dan
pengakuan atas kontribusi mereka. Tak perlu sesuatu yang sulit atau mahal, ini
bisa sesederhana pujian yang tulus.
Namun, memberikan pujian ternyata bukan mudah.
Jauh lebih mudah mengritik orang lain.
Seorang kawan pernah mengatakan, "Bukannya saya tak mau memuji bawahan, tapi
saya benar-benar tak tahu apa yang perlu saya puji. Kinerjanya begitu buruk."
"Tahukah Anda kenapa kinerjanya begitu buruk?" saya balik bertanya. "Karena
Anda sama sekali tak pernah memujinya!"
Persoalannya, mengapa kita begitu sulit memberi pujian pada orang lain?
Menurut saya, ada tiga hal penyebabnya, dan kesemuanya berakar pada cara kita
memandang orang lain.
Pertama, kita tidak tulus mencintai mereka. Cinta kita bukanlah unconditional
love, tetapi cinta bersyarat. Kita mencintai pasangan kita karena ia mengikuti
kemauan kita, kita mencintai anak-anak kita karena mereka berprestasi di
sekolah, kita mengasihi bawahan kita karena mereka memenuhi target pekerjaan
yang telah ditetapkan.
Perhatikanlah kata-kata di atas: cinta bersyarat. Artinya, kalau syarat-syarat
tidak terpenuhi, cinta kita pun memudar. Padahal, cinta yang tulus seperti
pepatah Perancis: L`amour n`est pas parce que mais malgre. Cinta adalah bukan
"cinta karena", tetapi "cinta walaupun". Inilah cinta yang tulus, yang tanpa
kondisi dan persyaratan apapun.
Cinta tanpa syarat adalah penjelmaan sikap Tuhan yang memberikan rahmatNya
tanpa pilih kasih. Cinta Tuhan adalah "cinta walaupun". Walaupun Anda
mengingkari nikmatNya, Dia tetap memberikan kepada Anda. Lihatlah bagaimana Dia
menumbuhkan bunga-bunga yang indah untuk dapat dinikmati siapa saja tak peduli
si baik atau si jahat. Dengan paradigma ini, Anda akan menjadi manusia yang
tulus, yang senantiasa melihat sisi positif orang lain. Ini bisa memudahkan
Anda memberi pujian.
Kesalahan kedua, kita lupa bahwa setiap manusia itu unik. Ada cerita mengenai
seorang turis yang masuk toko barang unik dan antik. Ia berkata, "Tunjukkan
pada saya barang paling unik dari semua yang ada di sini!" Pemilik toko
memeriksa ratusan barang: binatang kering berisi kapuk, tengkorak, burung yang
diawetkan, kepala rusa, lalu berpaling ke turis dan berkata, "Barang yang
paling unik di toko ini tak dapat disangkal adalah saya sendiri!"
Setiap manusia adalah unik, tak ada dua orang yang persis sama. Kita sering
menyamaratakan orang, sehingga membuat kita tak tertarik pada orang lain.
Padahal, dengan menyadari bahwa tiap orang berbeda, kita akan berusaha mencari
daya tarik dan inner beauty setiap orang. Dengan demikian, kita akan mudah
sekali memberi pujian.
Kesalahan ketiga disebut paradigm paralysis. Kita sering gagal melihat orang
lain secara apa adanya, karena kita terperangkap dalam paradigma yang kita buat
sendiri mengenai orang itu. Tanpa disadari kita sering mengotak-ngotakkan
orang. Kita menempatkan mereka dalam label-label: orang ini membosankan, orang
itu menyebalkan, orang ini egois, orang itu mau menang sendiri. Inilah
persoalannya: kita gagal melihat setiap orang sebagai manusia yang "segar dan
baru". Padahal, pasangan, anak, kawan, dan bawahan kita yang sekarang bukanlah
mereka yang kita lihat kemarin. Mereka berubah dan senantiasa baru dan segar
setiap saat.
Penyakit yang kita alami, apalagi menghadapi orang yang sudah bertahun-tahun
berinteraksi dengan kita adalah 4 L (Lu Lagi, Lu Lagi -- bahasa Jakarta). Kita
sudah merasa tahu, paham dan hafal mengenai orang itu. Kita menganggap tak ada
lagi sesuatu yang baru dari mereka. Maka, di hadapan kita mereka telah
kehilangan daya tariknya.
Sewaktu membuat tulisan ini, istri saya pun menyindir saya dengan mengatakan
bahwa saya tak terlalu sering lagi memujinya setelah kami menikah. Sebelum
menikah dulu, saya tak pernah kehabisan bahan untuk memujinya. Sindiran ini,
tentu, membuat saya tersipu-sipu dan benar-benar mati kutu.
Pujian yang tulus merupakan penjelmaan Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha
Penyayang. Maka, ia mengandung energi positif yang amat dahsyat. Saya telah
mencoba menerapkan pujian dan ucapan terima kasih kepada orang-orang yang saya
jumpai: istri, pembantu yang membukakan pagar setiap pagi, bawahan di kantor,
resepsionis di kantor klien, tukang parkir, satpam, penjaga toko maupun petugas
di jalan tol.
Efeknya ternyata luar biasa. Pembantu bahkan menjawab ucapan terima kasih saya
dengan doa, "Hati-hati di jalan Pak!" Orang-orang yang saya jumpai juga
senantiasa memberi senyuman yang membahagiakan. Sepertinya mereka terbebas dari
rutinitas pekerjaan yang menjemukan.
Pujian memang mengandung energi yang bisa mencerahkan, memotivasi, membuat
orang bahagia dan bersyukur. Yang lebih penting, membuat orang merasa
Ayah saya adalah..........ayah saya....tak ada yang bisa menggantikannya
Lalu bagaimana dengan Ayah?
Mungkin karena Ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Ayah-lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak laki-laki.. Ayah biasanya mengajari putra kecilnya naik sepeda. Dan setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu...
Kemudian Ibu bilang : "Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya"
Ibu takut putra kesayangannya terjatuh lalu terluka....
Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu anak laki-laki PASTI BISA.
Pada saat kamu menangis merengek meminta mainan yang baru, Ibu menatapmu iba. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"
Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : "Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!".
Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja.... Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak
boleh!".
Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu... Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Ibu....
Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika saat seorang cewek mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah
Ayah sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
Sadarkah kamu, kalau hati Ayah merasa cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...dan setelah perasaan khawatir itu berlarut- larut... ketika melihat anak laki-lakinya pulang larut malam hati Ayah akan mengeras dan memarahimu.. .
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Ayah akan segera datang? "Bahwa anaknya akan segera pergi meninggalkan Ayah"
Setelah lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...
Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Ayah.
Ketika kamu menjadi pria dewasa.... dan kamu harus pergi kuliah dikota lain... Ayah harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu?
Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat.
Yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya".
Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah.
Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta mainan baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...
Kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"
Padahal dalam batin Ayah, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu".
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putra laki-laki yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"
ketika ada seorang wanita yang masuk ke kehidupan dia
Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Ayah tahu.....
Bahwa wanita itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan akhirnya.... Saat Ayah melihatmu duduk di Panggung Pelaminan
bersama seseorang wanita yang di anggapnya pantas menggantikannya, Ayah
pun tersenyum bahagia....
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
Ayah menangis karena sangat berbahagia, kemudian Ayah berdoa.... Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Ayah berkata: "Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik.... anak laki-laki saya yang lucu dan kucintai telah menjadi pria yang tampan.... Bahagiakanlah ia bersama istrinya..."
Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk...
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih.... Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya....
Ayah telah menyelesaikan tugasnya....
Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita... Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat... Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis...
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal..
Tulisan ini untuk teman-teman saya yang kini sudah berubah menjadi pria dewasa , dan juga untuk teman-teman wanita yang akan menjadi ibu yang hebat. dan juga buat kakak serta keponakan tercinta ..(I love u much!)
coba ganti kata laki-laki dgn wanita... sama aja kok...
Ya, banyak hal yang mungkin tidak bisa dikatakan Ayah / Bapak / Romo / Papa / Papi kita... tapi setidaknya kini kita mengerti apa yang tersembunyi dibalik hatinya ;)
Ayah saya adalah..........ayah saya....tak ada yang bisa menggantikannya
Selamat Ulang Tahun Pah...
10 November 2010
Pikuk.....
Meringkuk Aku terpuruk Tercekat dalam kebisuan yang hiruk-pikuk
Hilang lenyap berulang
Dalam masa berpulangTertatih berjuang
Meniti jalan panjang
Kiranya ada setitik lubang
Pekat menghadang
MengharapMU segera datang
Tetesi kerinduan yang meradang
Burung dan Mawar
Burung selalu berusaha utk mengungkapkan cintanya pada Mawar Putih, akan tetapi Mawar Putih menolak dan berkata,
"Aku tidak mungkin mencintaimu". Burung tak pernah menyerah, hingga tiap hari burung menemui Mawar Putih.
Dan akhirnya Mawar Putih pun luluh dan berkata, "Aku akan mencintaimu jika kau mampu merubahku menjadi Mawar Merah".
Burung pun lalu memotong sayapnya dan menuangkan darahnya ke kelopak Mawar Putih. Akhirnya Mawar Putih menyadari betapa tulusnya cinta Burung kepadanya.
Namun semua telah terlambat,Burung telah mati kehabisan darah...
Maka dari itu, hargailah siapapun yg mencintaimu sebelum mereka pergi jauh darimu...
Terkadang sering kali kita mati rasa saat seseorang mencintai kita...bahkan kita menyia-nyiakan mereka
I mean
I did not intentionally let you love me,
sorry if I gave you hope,
maybe I mean when I let you have given me a million of attention,
deliver me when I really needed a friend,
but from the beginning we know it,
I do not expect you to say let alone becoming a darling of sesial in your life ,
your friend thought I liked you,
because wherever you go I'm sure there beside you,
but I want reciprocity same cuman what you do for me,
I just wanted you to be my best friend no more,

