.......

Semua kehidupan ada dibawah payung yang Tuhan ciptakan yaitu langit
semua ini hanya untuk sekedar menghiasi apa yg ada dibawah payung tersebut agar terasa lebih indah pada waktunya
Ingatlah tak ada hal yang paling indah dari hidup selain kehidupan itu sendiri...hiaslah dan percayalah bahwa Tuhan akan selalu bersama kita

Rabu, 15 Desember 2010

Mengapa kita begitu sulit memberikan pujian ?

Seorang pengemis duduk mengulurkan tangannya di sudut jalan. Tolstoy, penulis
besar Rusia yang kebetulan lewat di depannya, langsung berhenti dan mencoba
mencari uang logam di sakunya. Ternyata tak ada. Dengan amat sedih ia berkata,
"Janganlah marah kepadaku, hai Saudaraku. Aku tidak bawa uang."

Mendengar kata-kata itu, wajah pengemis berbinar-binar, dan ia menjawab, "Tak
apa-apa Tuan. Saya gembira sekali, karena Anda menyebut saya saudara. Ini
pemberian yang sangat besar bagi saya."

Setiap manusia, apapun latar belakangnya, memiliki kesamaan yang mendasar:
ingin dipuji, diakui, didengarkan dan dihormati.

Kebutuhan ini sering terlupakan begitu saja. Banyak manajer yang masih
beranggapan bahwa orang hanya termotivasi uang. Mereka lupa, nilai uang hanya
bertahan sampai uang itu habis dibelanjakan. Ini sesuai dengan teori Herzberg
yang mengatakan bahwa uang tak akan pernah mendatangkan kepuasan dalam bekerja.

Manusia bukan sekadar makhluk fisik, tapi juga makhluk spiritual yang
membutuhkan sesuatu yang jauh lebih bernilai. Mereka butuh penghargaan dan
pengakuan atas kontribusi mereka. Tak perlu sesuatu yang sulit atau mahal, ini
bisa sesederhana pujian yang tulus.

Namun, memberikan pujian ternyata bukan mudah.

Jauh lebih mudah mengritik orang lain.

Seorang kawan pernah mengatakan, "Bukannya saya tak mau memuji bawahan, tapi
saya benar-benar tak tahu apa yang perlu saya puji. Kinerjanya begitu buruk."
"Tahukah Anda kenapa kinerjanya begitu buruk?" saya balik bertanya. "Karena
Anda sama sekali tak pernah memujinya!"

Persoalannya, mengapa kita begitu sulit memberi pujian pada orang lain?

Menurut saya, ada tiga hal penyebabnya, dan kesemuanya berakar pada cara kita
memandang orang lain.

Pertama, kita tidak tulus mencintai mereka. Cinta kita bukanlah unconditional
love, tetapi cinta bersyarat. Kita mencintai pasangan kita karena ia mengikuti
kemauan kita, kita mencintai anak-anak kita karena mereka berprestasi di
sekolah, kita mengasihi bawahan kita karena mereka memenuhi target pekerjaan
yang telah ditetapkan.

Perhatikanlah kata-kata di atas: cinta bersyarat. Artinya, kalau syarat-syarat
tidak terpenuhi, cinta kita pun memudar. Padahal, cinta yang tulus seperti
pepatah Perancis: L`amour n`est pas parce que mais malgre. Cinta adalah bukan
"cinta karena", tetapi "cinta walaupun". Inilah cinta yang tulus, yang tanpa
kondisi dan persyaratan apapun.

Cinta tanpa syarat adalah penjelmaan sikap Tuhan yang memberikan rahmatNya
tanpa pilih kasih. Cinta Tuhan adalah "cinta walaupun". Walaupun Anda
mengingkari nikmatNya, Dia tetap memberikan kepada Anda. Lihatlah bagaimana Dia
menumbuhkan bunga-bunga yang indah untuk dapat dinikmati siapa saja tak peduli
si baik atau si jahat. Dengan paradigma ini, Anda akan menjadi manusia yang
tulus, yang senantiasa melihat sisi positif orang lain. Ini bisa memudahkan
Anda memberi pujian.

Kesalahan kedua, kita lupa bahwa setiap manusia itu unik. Ada cerita mengenai
seorang turis yang masuk toko barang unik dan antik. Ia berkata, "Tunjukkan
pada saya barang paling unik dari semua yang ada di sini!" Pemilik toko
memeriksa ratusan barang: binatang kering berisi kapuk, tengkorak, burung yang
diawetkan, kepala rusa, lalu berpaling ke turis dan berkata, "Barang yang
paling unik di toko ini tak dapat disangkal adalah saya sendiri!"

Setiap manusia adalah unik, tak ada dua orang yang persis sama. Kita sering
menyamaratakan orang, sehingga membuat kita tak tertarik pada orang lain.
Padahal, dengan menyadari bahwa tiap orang berbeda, kita akan berusaha mencari
daya tarik dan inner beauty setiap orang. Dengan demikian, kita akan mudah
sekali memberi pujian.

Kesalahan ketiga disebut paradigm paralysis. Kita sering gagal melihat orang
lain secara apa adanya, karena kita terperangkap dalam paradigma yang kita buat
sendiri mengenai orang itu. Tanpa disadari kita sering mengotak-ngotakkan
orang. Kita menempatkan mereka dalam label-label: orang ini membosankan, orang
itu menyebalkan, orang ini egois, orang itu mau menang sendiri. Inilah
persoalannya: kita gagal melihat setiap orang sebagai manusia yang "segar dan
baru". Padahal, pasangan, anak, kawan, dan bawahan kita yang sekarang bukanlah
mereka yang kita lihat kemarin. Mereka berubah dan senantiasa baru dan segar
setiap saat.

Penyakit yang kita alami, apalagi menghadapi orang yang sudah bertahun-tahun
berinteraksi dengan kita adalah 4 L (Lu Lagi, Lu Lagi -- bahasa Jakarta). Kita
sudah merasa tahu, paham dan hafal mengenai orang itu. Kita menganggap tak ada
lagi sesuatu yang baru dari mereka. Maka, di hadapan kita mereka telah
kehilangan daya tariknya.

Sewaktu membuat tulisan ini, istri saya pun menyindir saya dengan mengatakan
bahwa saya tak terlalu sering lagi memujinya setelah kami menikah. Sebelum
menikah dulu, saya tak pernah kehabisan bahan untuk memujinya. Sindiran ini,
tentu, membuat saya tersipu-sipu dan benar-benar mati kutu.

Pujian yang tulus merupakan penjelmaan Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha
Penyayang. Maka, ia mengandung energi positif yang amat dahsyat. Saya telah
mencoba menerapkan pujian dan ucapan terima kasih kepada orang-orang yang saya
jumpai: istri, pembantu yang membukakan pagar setiap pagi, bawahan di kantor,
resepsionis di kantor klien, tukang parkir, satpam, penjaga toko maupun petugas
di jalan tol.

Efeknya ternyata luar biasa. Pembantu bahkan menjawab ucapan terima kasih saya
dengan doa, "Hati-hati di jalan Pak!" Orang-orang yang saya jumpai juga
senantiasa memberi senyuman yang membahagiakan. Sepertinya mereka terbebas dari
rutinitas pekerjaan yang menjemukan.

Pujian memang mengandung energi yang bisa mencerahkan, memotivasi, membuat
orang bahagia dan bersyukur. Yang lebih penting, membuat orang merasa
dimanusiakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar