.......

Semua kehidupan ada dibawah payung yang Tuhan ciptakan yaitu langit
semua ini hanya untuk sekedar menghiasi apa yg ada dibawah payung tersebut agar terasa lebih indah pada waktunya
Ingatlah tak ada hal yang paling indah dari hidup selain kehidupan itu sendiri...hiaslah dan percayalah bahwa Tuhan akan selalu bersama kita

Rabu, 15 Desember 2010

Abah

ABAH IWAN : Seorang Pengelana Kehidupan by Oki Rahmat Mulyadi

August 30, 2007 by abahiwan

Saat remaja, saya hanya mengetahui Abah Iwan dari pergaulan para ‘budak leuweung’ yang setiap malam Minggu suka ‘ngapel bareng’ di daerah Jayagiri,

Lembang. Sambil “siduru” di depan api unggun kami sering melantunkan lagu-lagu ciptaan Abah Iwan, seperti “Melati Dari Jayagiri”, “Melati Putih” dan “Balada Seorang Kelana”. Setelah kuliah di Fakultas Pertanian UNPAD dan bergabung dengan Grup Pencinta Lagu (GPL), saya makin mengenal Abah Iwan secara

pribadi. Karena merasa sama-sama ‘budak leuweung’, saya merasa sangat “comfort” berteman dan menjadi adik dari Abah Iwan. Bagi saya, Abah Iwan adalah seorang sahabat dan kakak yang idealis, berkepribadian kuat,

berkemauan keras; sekaligus “romantis” dan sangat penuh dengan perasaan. Keras dalam kelembutan danlembut dalam kekerasan.

Seni adalah salah satu cara bagi beliau untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Seni adalah alat olah pikir dan olah rasa baginya. Dari setiap

dentingan gitar dan nada-nada yang dilantunkannya, Abah Iwan mampu memaknai berbagai arti kehidupan dengan indah, jelas dan menggugah hati. Lagu-lagu ciptaan Abah Iwan, hampir seluruhnya bersifat tematis dan memiliki rangkaian nada-nada indah yang mengandung arti yang sangat filosofis. Lagu-lagu Abah Iwan, adalah lagu pujian, lagu jeritan hati, lagu cinta sejati, lagu perjuangan dan lagu-lagu bagi pengelana kehidupan. Abah Iwan juga mampu mengolah seni sebagai sarana untuk membentuk kehalusan budi dan aktualisasi diri. Lagu-lagunya banyak yang memberikan motivasi spiritual dan menggugah empati seseorang terhadap nilai dan makna hakiki dari kehidupan. Lagu-lagu Abah Iwan adalah syair dan puisi spiritual bernada indah yang mampu menyentuh sanubari.

Abah Iwan adalah seorang yang memiliki “habit for going an extra mile” atau berjalan ‘seribu mil lebih sedepa’, lebih jauh dari yang dilakukan oleh orang

lain. Sikap dan prinsip untuk melakukan sesuatu lebih baik dari orang lain. Abah Iwan adalah ‘seorang tua’ berfisik prima yang mampu bersepeda hampir setiap hari dan menempuh jarak yang sangat jauh. Gerakan jurus-jurus silatnya juga masih sangat cekatan, spontan dan berisi. “Tong rarasaeun, tapi kudu karasa”, adalah filsafat ilmu silat yang suka dipakai Abah Iwan untuk mengartikan maksud dari tindakan ‘do it’. ‘Berlatih, berlatih dan berlatih’, itulah dorongan dan motivasi yang selalu beliau sampaikan kepada setiap anggota GPL. Abah Iwan juga adalah seorang moralis, filosofis dan “life tracker” atau pengelana dalam kehidupan. Selalu mencari arti dan hakikat sesungguhnya dari kehidupan. Sampai hari ini, Abah Iwan terus melakukan pemantauan dan pengamatan terhadap berbagai aspek kehidupan, sambil mengayuh sepedanya di jalan-jalan kota Bandung.

Bergaul dan bersahabat dengan Abah Iwan, banyak memberikan pelajaran, masukan dan wawasan bagi kehidupan diri saya pribadi. Khususnya, “how to become a better person each day”; bagaimana menjadi seseorang

yang selalu berupaya untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Abah Iwan adalah ‘pohon beringin yang besar dan kokoh’ yang meneduhi ‘rumput-rumput hijau’ dibawahnya, diantaranya adalah ‘rumput kecil’ seperti saya. Setiap kami bertemu, Abah Iwan tidak pernah segan dan bosan untuk mengutarakan berbagai pendapat, pandangan dan pemikirannya. Saya tidak bisa menjadi duplikat atau mencontoh kepribadian Abah Iwan sepenuhnya, tetapi setiap ucapan dan obrolan yang disampaikannya, selalu saya pelajari dan cerna untuk terus memperbaiki diri sendiri. Kata-kata bijak, bisa kita peroleh dari siapapun juga, bahkan dari seorang tukang becak tua yang kita anggap bodoh.

Hiduplah dalam kebenaran dan kesabaran : kandungan dari ayat Al ‘Ashr tersebut selalu disampaikan oleh Abah Iwan setiap kami akan berlatih di GPL. Waktu adalah anugerah Tuhan yang wajib disyukuri. Kita masih diberikan waktu untuk menjalani kehidupan ini dan isilah dengan setiap aspek kebenaran yang diperintahkan Tuhan. “Kita adalah orang yang merugi, jika tidak dapat mensyukuri dan memanfaatkan waktu secara benar” ujarnya kepada kami. Hiduplah dalam sikap yang positif, sehat, produktif, bermanfaat dan benar menurut agama. “Jika kau tidak mampu menjadi pohon yang besar, jadilah jalan setapak yang membawa orang menuju mata air”. Kalimat bijak dari Abah Iwan tersebut ternyata tertanam dalam diri kawan akrab saya, Kang Ulun, seorang anggota Wanadri. Jadilah kalian seseorang menurut kadar dan kemampuannya, untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

“Jadilah akar yang kuat, yang mampu menopang pohon besar hingga tumbuh subur dan tinggi”. Dalam bersosialisasi hendaknya kita selalu menyampaikan

kebenaran dan saling mengingatkan nilai-nilai hakiki dari kehidupan. Salah seorang sahabat Abah Iwan yang sangat dekat dan akrab dengan saya sampai akhir hayatnya adalah Army. Ia adalah seorang seniman, sarjana pertanian, mubaligh dan kawan yang santun serta penuh perhatian. Dengan sabar ia selalu mengingatkan dan membimbing saya kearah jalan agama dan kebenaran hakiki untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Saya merasakan berteman dengan Abah Iwan dan Army, telah banyak memberikan arti dan tuntunan bagi saya yang awalnya berpikiran dan bersikap sangat sekular.

Bekerja sungguh-dan bersabar : saat kami ‘kemping’ bersama di daerah Cicaruk, Situ Lembang, Bah Iwan pernah mengutarakan pendapat tentang keyakinannya

terhadap ayat-ayat surat Alam Nasyrah. “Saya yakin bahwa segala sesuatu yang kita anggap sulit pada awalnya, kelak akan menjadi mudah bagi kita”. Dibalik kesukaran, ada kemudahan. Di dalam tenda, saya terus

renungkan ucapannya tersebut. Terjadi dialog internal dalam pikiran saya untuk mencerna arti dari ayat ‘fa inna ma’al usri yusran’ yang baru kami diskusikan.

Mencangkul itu sulit, melelahkan dan membuat tangan menjadi lecet. Apakah sebagai kemudahannya, kita mungkin akan mendapatkan harta karun dari tanah yang kita gali? Tidak. Yang pasti, jika kita mau mencangkul, kita akan menjadi pencangkul dan petani yang baik. Itulah kemudahannya, kita akan memperoleh

manfaat langsung dari segala sesuatu yang kita kerjakan dengan sungguh-sungguh. Ketekunan dan pemahaman adalah buah dari kesabaran. Jangan

menganggap hal-hal yang kita kerjakan adalah sesuatu hal yang percuma. Lakukanlah pekerjaan yang orang lain segan dan malas untuk melakukannya. Jadilah orang yang penuh inisiatif dan bekerja dengan tekun serta sabar. Membaca not-not balok dan bermain piano, adalah pekerjaan yang membosankan, memeras konsentrasi dan membuat tangan menjadi pegal. Begitu juga jika kita memainkan gitar, memukul dogdog, melukis, menggergaji, menyapu kebun atau menulis buku. Semua adalah proses untuk melakukan ‘self improvement’. Pergi berkemah dengan Abah Iwan, bukan hal yang percuma, kita bisa mendapatkan banyak hal yang berguna bagi peningkatan kualitas diri kita.

Melakukan kaji ulang diri : atau “back azimuth” menurut istilah kerennya Bah Iwan. “Kita perlu mengkaji ulang terhadap apa-apa yang pernah dilakukan

oleh kita hingga saat ini” ujarnya saat berjalan pagi bersama di bukit Dago. Apakah yang telah kita lakukan masih “on the right track?”, atau telah mengalami

pergeseran esktrim dari tujuan yang kita inginkan sebelumnya. Apakah ada nilai dan manfaat hakiki yang telah kita peroleh selama perjalanan hidup kita?

Apakah kita terlalu sering lalai dan kurang bijak dalam menghadapi berbagai masalah hidup kita? Kita secara impulsif dan terburu-buru sering melakukan

tindakan “potong kompas” dalam mencapai tujuan kita. Padahal tujuan hakiki dari hidup kita hanyalah untuk mencapai keridhoan Tuhan.

Batas usia adalah suatu kepastian. Secara bijak, Abah Iwan mengajak kita,

khususnya teman-teman anggota GPL (Grup Pemuda Lansia, kata kang Ganjar Kurnia), untuk melakukan retrospeksi diri pada umur kita yang mulai senja. Banyak bertobat dan perbaiki kesalahan diri, selagi kita masih diberkahi usia.

Mendekatkan diri kepada Allah SWT : Alam terbuka adalah wahana yang sangat tepat dan ideal bagi Abah Iwan untuk melakukan kontemplasi diri dan pendekatan kepada Sang Maha Pencipta. Ditengah hutan Cicaruk,

pada malam hari Abah Iwan pernah mengajak saya mendengarkan dengan seksama ‘suara-suara alam yang sedang bertasbih’. Saat itu, benar-benar membuat saya menjadi ‘muringkak’ dan merasa sangat kecil dan lemah.

Alam begitu konsisten dan patuh memanjatkan pujian dan menjalankan setiap sunah Tuhan yang ditugaskan baginya. Setiap masuk waktu magrib, seluruh serangga di hutan Cicaruk melaksanakan ‘takbir’ hidmat, dengan

cara dan suaranya masing-masing. Bersyukurlah orang-orang yang mampu dekat dan belajar dari alam, karena disana juga tersirat berbagai ayat-ayat Illahi. Abah Iwan sesungguhnya adalah seorang “Nature Boy” yang selalu menyebarkan cinta dan kasih kepada setiap mahluk, untuk mendapatkan “God’s love in return”…

God bless you, Abah Iwan…

OKI RAHMAT MULYADI

Anggota GPL UNPAD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar