.......

Semua kehidupan ada dibawah payung yang Tuhan ciptakan yaitu langit
semua ini hanya untuk sekedar menghiasi apa yg ada dibawah payung tersebut agar terasa lebih indah pada waktunya
Ingatlah tak ada hal yang paling indah dari hidup selain kehidupan itu sendiri...hiaslah dan percayalah bahwa Tuhan akan selalu bersama kita

Rabu, 15 Desember 2010

Mengapa kita begitu sulit memberikan pujian ?

Seorang pengemis duduk mengulurkan tangannya di sudut jalan. Tolstoy, penulis
besar Rusia yang kebetulan lewat di depannya, langsung berhenti dan mencoba
mencari uang logam di sakunya. Ternyata tak ada. Dengan amat sedih ia berkata,
"Janganlah marah kepadaku, hai Saudaraku. Aku tidak bawa uang."

Mendengar kata-kata itu, wajah pengemis berbinar-binar, dan ia menjawab, "Tak
apa-apa Tuan. Saya gembira sekali, karena Anda menyebut saya saudara. Ini
pemberian yang sangat besar bagi saya."

Setiap manusia, apapun latar belakangnya, memiliki kesamaan yang mendasar:
ingin dipuji, diakui, didengarkan dan dihormati.

Kebutuhan ini sering terlupakan begitu saja. Banyak manajer yang masih
beranggapan bahwa orang hanya termotivasi uang. Mereka lupa, nilai uang hanya
bertahan sampai uang itu habis dibelanjakan. Ini sesuai dengan teori Herzberg
yang mengatakan bahwa uang tak akan pernah mendatangkan kepuasan dalam bekerja.

Manusia bukan sekadar makhluk fisik, tapi juga makhluk spiritual yang
membutuhkan sesuatu yang jauh lebih bernilai. Mereka butuh penghargaan dan
pengakuan atas kontribusi mereka. Tak perlu sesuatu yang sulit atau mahal, ini
bisa sesederhana pujian yang tulus.

Namun, memberikan pujian ternyata bukan mudah.

Jauh lebih mudah mengritik orang lain.

Seorang kawan pernah mengatakan, "Bukannya saya tak mau memuji bawahan, tapi
saya benar-benar tak tahu apa yang perlu saya puji. Kinerjanya begitu buruk."
"Tahukah Anda kenapa kinerjanya begitu buruk?" saya balik bertanya. "Karena
Anda sama sekali tak pernah memujinya!"

Persoalannya, mengapa kita begitu sulit memberi pujian pada orang lain?

Menurut saya, ada tiga hal penyebabnya, dan kesemuanya berakar pada cara kita
memandang orang lain.

Pertama, kita tidak tulus mencintai mereka. Cinta kita bukanlah unconditional
love, tetapi cinta bersyarat. Kita mencintai pasangan kita karena ia mengikuti
kemauan kita, kita mencintai anak-anak kita karena mereka berprestasi di
sekolah, kita mengasihi bawahan kita karena mereka memenuhi target pekerjaan
yang telah ditetapkan.

Perhatikanlah kata-kata di atas: cinta bersyarat. Artinya, kalau syarat-syarat
tidak terpenuhi, cinta kita pun memudar. Padahal, cinta yang tulus seperti
pepatah Perancis: L`amour n`est pas parce que mais malgre. Cinta adalah bukan
"cinta karena", tetapi "cinta walaupun". Inilah cinta yang tulus, yang tanpa
kondisi dan persyaratan apapun.

Cinta tanpa syarat adalah penjelmaan sikap Tuhan yang memberikan rahmatNya
tanpa pilih kasih. Cinta Tuhan adalah "cinta walaupun". Walaupun Anda
mengingkari nikmatNya, Dia tetap memberikan kepada Anda. Lihatlah bagaimana Dia
menumbuhkan bunga-bunga yang indah untuk dapat dinikmati siapa saja tak peduli
si baik atau si jahat. Dengan paradigma ini, Anda akan menjadi manusia yang
tulus, yang senantiasa melihat sisi positif orang lain. Ini bisa memudahkan
Anda memberi pujian.

Kesalahan kedua, kita lupa bahwa setiap manusia itu unik. Ada cerita mengenai
seorang turis yang masuk toko barang unik dan antik. Ia berkata, "Tunjukkan
pada saya barang paling unik dari semua yang ada di sini!" Pemilik toko
memeriksa ratusan barang: binatang kering berisi kapuk, tengkorak, burung yang
diawetkan, kepala rusa, lalu berpaling ke turis dan berkata, "Barang yang
paling unik di toko ini tak dapat disangkal adalah saya sendiri!"

Setiap manusia adalah unik, tak ada dua orang yang persis sama. Kita sering
menyamaratakan orang, sehingga membuat kita tak tertarik pada orang lain.
Padahal, dengan menyadari bahwa tiap orang berbeda, kita akan berusaha mencari
daya tarik dan inner beauty setiap orang. Dengan demikian, kita akan mudah
sekali memberi pujian.

Kesalahan ketiga disebut paradigm paralysis. Kita sering gagal melihat orang
lain secara apa adanya, karena kita terperangkap dalam paradigma yang kita buat
sendiri mengenai orang itu. Tanpa disadari kita sering mengotak-ngotakkan
orang. Kita menempatkan mereka dalam label-label: orang ini membosankan, orang
itu menyebalkan, orang ini egois, orang itu mau menang sendiri. Inilah
persoalannya: kita gagal melihat setiap orang sebagai manusia yang "segar dan
baru". Padahal, pasangan, anak, kawan, dan bawahan kita yang sekarang bukanlah
mereka yang kita lihat kemarin. Mereka berubah dan senantiasa baru dan segar
setiap saat.

Penyakit yang kita alami, apalagi menghadapi orang yang sudah bertahun-tahun
berinteraksi dengan kita adalah 4 L (Lu Lagi, Lu Lagi -- bahasa Jakarta). Kita
sudah merasa tahu, paham dan hafal mengenai orang itu. Kita menganggap tak ada
lagi sesuatu yang baru dari mereka. Maka, di hadapan kita mereka telah
kehilangan daya tariknya.

Sewaktu membuat tulisan ini, istri saya pun menyindir saya dengan mengatakan
bahwa saya tak terlalu sering lagi memujinya setelah kami menikah. Sebelum
menikah dulu, saya tak pernah kehabisan bahan untuk memujinya. Sindiran ini,
tentu, membuat saya tersipu-sipu dan benar-benar mati kutu.

Pujian yang tulus merupakan penjelmaan Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha
Penyayang. Maka, ia mengandung energi positif yang amat dahsyat. Saya telah
mencoba menerapkan pujian dan ucapan terima kasih kepada orang-orang yang saya
jumpai: istri, pembantu yang membukakan pagar setiap pagi, bawahan di kantor,
resepsionis di kantor klien, tukang parkir, satpam, penjaga toko maupun petugas
di jalan tol.

Efeknya ternyata luar biasa. Pembantu bahkan menjawab ucapan terima kasih saya
dengan doa, "Hati-hati di jalan Pak!" Orang-orang yang saya jumpai juga
senantiasa memberi senyuman yang membahagiakan. Sepertinya mereka terbebas dari
rutinitas pekerjaan yang menjemukan.

Pujian memang mengandung energi yang bisa mencerahkan, memotivasi, membuat
orang bahagia dan bersyukur. Yang lebih penting, membuat orang merasa
dimanusiakan.

Ayah saya adalah..........ayah saya....tak ada yang bisa menggantikannya

Biasanya, bagi seorang anak laki-laki yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.. akan sering merasa kangen sekali dengan Ibunya.

Lalu bagaimana dengan Ayah?

Mungkin karena Ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Ayah-lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak laki-laki.. Ayah biasanya mengajari putra kecilnya naik sepeda. Dan setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu...
Kemudian Ibu bilang : "Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya"
Ibu takut putra kesayangannya terjatuh lalu terluka....

Tapi sadarkah kamu?

Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu anak laki-laki PASTI BISA.
Pada saat kamu menangis merengek meminta mainan yang baru, Ibu menatapmu iba. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"
Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : "Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!".
Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja.... Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak
boleh!".
Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu... Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Ibu....
Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika saat seorang cewek mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah
Ayah sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..

Sadarkah kamu, kalau hati Ayah merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...dan setelah perasaan khawatir itu berlarut- larut... ketika melihat anak laki-lakinya pulang larut malam hati Ayah akan mengeras dan memarahimu.. .
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Ayah akan segera datang? "Bahwa anaknya akan segera pergi meninggalkan Ayah"
Setelah lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...
Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Ayah.
Ketika kamu menjadi pria dewasa.... dan kamu harus pergi kuliah dikota lain... Ayah harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu?
Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat.
Yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya".
Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah.
Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta mainan baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...
Kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"
Padahal dalam batin Ayah, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu".
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putra laki-laki yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"
ketika ada seorang wanita yang masuk ke kehidupan dia
Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin..

Karena Ayah tahu.....

Bahwa wanita itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya.... Saat Ayah melihatmu duduk di Panggung Pelaminan
bersama seseorang wanita yang di anggapnya pantas menggantikannya, Ayah
pun tersenyum bahagia....
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
Ayah menangis karena sangat berbahagia, kemudian Ayah berdoa.... Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Ayah berkata: "Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik.... anak laki-laki saya yang lucu dan kucintai telah menjadi pria yang tampan.... Bahagiakanlah ia bersama istrinya..."
Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk...
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih.... Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya....
Ayah telah menyelesaikan tugasnya....

Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita... Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat... Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis...
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .

Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal..
Tulisan ini untuk teman-teman saya yang kini sudah berubah menjadi pria dewasa , dan juga untuk teman-teman wanita yang akan menjadi ibu yang hebat. dan juga buat kakak serta keponakan tercinta ..(I love u much!)
coba ganti kata laki-laki dgn wanita... sama aja kok...
Ya, banyak hal yang mungkin tidak bisa dikatakan Ayah / Bapak / Romo / Papa / Papi kita... tapi setidaknya kini kita mengerti apa yang tersembunyi dibalik hatinya ;)

Ayah saya adalah..........ayah saya....tak ada yang bisa menggantikannya

Selamat Ulang Tahun Pah...

10 November 2010

Pikuk.....



Meringkuk Aku terpuruk Tercekat dalam kebisuan yang hiruk-pikuk

Hilang lenyap berulang

Dalam masa berpulangTertatih berjuang

Meniti jalan panjang

Kiranya ada setitik lubang

Pekat menghadang

MengharapMU segera datang

Tetesi kerinduan yang meradang

Burung dan Mawar

Suatu hari seekor Burung jatuh cinta pd setangkai Mawar Putih.

Burung selalu berusaha utk mengungkapkan cintanya pada Mawar Putih, akan tetapi Mawar Putih menolak dan berkata,

"Aku tidak mungkin mencintaimu". Burung tak pernah menyerah, hingga tiap hari burung menemui Mawar Putih.

Dan akhirnya Mawar Putih pun luluh dan berkata, "Aku akan mencintaimu jika kau mampu merubahku menjadi Mawar Merah".

Burung pun lalu memotong sayapnya dan menuangkan darahnya ke kelopak Mawar Putih. Akhirnya Mawar Putih menyadari betapa tulusnya cinta Burung kepadanya.

Namun semua telah terlambat,Burung telah mati kehabisan darah...

Maka dari itu, hargailah siapapun yg mencintaimu sebelum mereka pergi jauh darimu...

Terkadang sering kali kita mati rasa saat seseorang mencintai kita...bahkan kita menyia-nyiakan mereka

I mean

I did not intentionally let you love me,

sorry if I gave you hope,

maybe I mean when I let you have given me a million of attention,

deliver me when I really needed a friend,

but from the beginning we know it,

I do not expect you to say let alone becoming a darling of sesial in your life ,

your friend thought I liked you,

because wherever you go I'm sure there beside you,

but I want reciprocity same cuman what you do for me,

I just wanted you to be my best friend no more,



PAGI......PADA SUATU PAGI HARI


Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

Jika jenuh, berkelanalah. Yang

pergi akan pulang, yang hilang tidak akan kembali

hmmm

Usia Kita, Pencapaian Kita

Dia yang melakukan hal terbaik sepanjang hidupnya

Takkan pernah merasa takut tua

Seorang kenalan memberi hadiah kepada saya. Sebuah buku berjudul ”Tuesdays with Morrie”. Dalam buku tersebut dikisahkan seorang profesor mengisi hari-hari terakhir hidupnya dengan mengajari mantan muridnya tentang berbagai makna kehidupan. Mereka bertemu setiap hari Selasa. Dalam setiap pertemuan, mereka berbicara banyak hal. Tentang pekerjaan, perkawinan, kematian, dan sebagainya. Suatu Selasa, topik yang dibahas adalah tentang usia.

”Pernahkah Anda merasa takut tua, Pak?” tanya sang murid.

Profesor tersenyum. ”Justru aku senang menjadi tua.”

”Senang?”

”Ya,” kata Profesor. ”Alasannya sederhana. Saat usiamu bertambah, kau makin banyak belajar. Kalau usiamu tetap remaja, kau akan terus cuek seperti ketika remaja. Dengan bertambahnya usia, kau tidak hanya menjadi rapuh, tapi juga tumbuh. Kau tidak hanya mendekati mati, tapi juga paham bahwa kau akan mati. Hidupmu menjadi lebih baik karena hal ini.”

”Benar,” kata sang murid. ”Tapi kalau menjadi tua itu menyenangkan, kenapa orang selalu bilang ’Oh, ingin sekali aku kembali muda.’ Tak ada orang yang pernah bilang, ’Oh, andai umurku 65.’”

Profesor tersenyum. ”Itu menunjukkan bahwa orang tersebut tidak puas dengan hidupnya. Hidupnya tidak bermakna. Sebab kalau hidupmu bermakna, kau takkan ingin kembali ke belakang. Kau ingin terus melangkah ke depan. Kau ingin melihat lebih banyak hal, melakukan lebih banyak hal. Kau takkan menundanya sampai usia 65.”

”Lalu, pernahkah Anda merasa iri kepada orang muda?”

”Tentu saja pernah. Tidak mungkin orang tua tidak merasa iri kepada yang muda. Orang muda bisa berjalan bebas, berenang sepuasnya, melakukan apapun yang mereka suka. Sedangkan orang tua sepertiku hanya bisa berbaring tak berdaya. Tapi yang harus kulakukan adalah menerima diri apa adanya. Aku harus bisa menemukan kebaikan dan keindahan dalam kehidupanku yang sekarang.”

Kemudian profesor tersebut melanjutkan, ”Aku pernah berusia 3 tahun, 5 tahun, 30 tahun, 50 tahun. Aku telah melewatinya dan tahu persis bagaimana rasanya. Aku senang ketika menjadi seorang anak, juga senang ketika menjadi orang dewasa yang bijak. Haruskah aku merasa iri pada usia muda bila aku sendiri pernah mengalaminya?”

Sang murid pun menganggukkan kepala.

***

Sahabat, ketika hari ulang tahun tiba, banyak orang menyambutnya dengan perasaan suka cita. Tapi tak sedikit yang justru diliputi gundah gulana. Bukan karena pikiran semacam, ”Duh, sebentar lagi hari jadi nih, harus nraktir padahal dompet sedang paceklik.” Namun karena kita tidak merasa istimewa dengan bertambahnya usia. ”Bagaimana saya akan merasa istimewa, bila di usia yang bertambah, kehidupan saya tak jua berubah?” Itulah mungkin yang mampir di benak kita.

Dalam rentang setahun, ada saat-saat kita merenungkan usia. Namun ada saat-saat kita enggan melakukannya. Kita merasa takut, cemas, gelisah menyadari waktu terus melesat, umur meningkat, sedang target keberhasilan belum juga didapat. ”Bagaimana ini? Umur tambah tua, belum punya apa-apa.” Kita jadi menyalahkan waktu yang tak mau berhenti berdetak barang sedetik saja. ”Andai aku bisa kembali ke masa muda, aku akan mulai dari awal dan memperbaiki semuanya.” Nah!

Banyak orang mengeluh tentang usia, karena merasa tidak puas dengan hidupnya. ”Aku sudah 25, belum juga dapat kerja.” ”Aku sudah 30, belum juga dapat jodoh.” ”Aku sudah 35, belum juga punya rumah.” ”Aku sudah 40, belum juga kaya raya.” ”Aku sudah 45, belum juga pensiun dini.” ”Aku sudah 50, belum juga naik haji.”

Semakin bertambah usia, kita merasa semakin terbebani. Oleh apa? Oleh harapan-harapan kita sendiri. Keinginan-keinginan kita sendiri.

Disadari atau tidak, kita membuat target-target dalam hati, bahwa kalau usia segini harus sudah punya ini. Ketika target tidak tercapai, kita merasa kecewa dan mulai berandai-andai. ”Andai aku kembali ke masa kecil, aku tak perlu capek mencari duit.” ”Andai aku kembali remaja, aku tak perlu pusing mikirin kerja.” ”Andai aku tetap anak kuliah, aku tak perlu capek mencari nafkah.”

Bertambahnya usia identik dengan bertambahnya tanggung jawab, dan kita kadang malas memikul tanggung jawab itu, atau bahkan merasa tidak mampu.

Sungguh ironis, karena kalau kita flashback ke masa lalu, terkadang kita juga merasa tidak nyaman di usia saat itu. Saat kanak-kanak, misalnya, kita ingin cepat besar agar bisa keluar rumah dan mengenal dunia. Saat remaja, kita ingin cepat dewasa agar bebas dari pergaulan canggung dan kekangan orang tua. Anehnya, ketika masa dewasa itu tiba, kita bukannya bergembira, malah ingin kembali muda. ”Sungguh indah masa-masa SMA dulu,” kita pun melamun. Padahal kalau mau jujur, masa SMA tidaklah seindah itu. Kita harus berurusan dengan guru yang galak, teman yang menyebalkan, gank yang menekan, kita merasa minder dengan penampilan, ditolak cinta, dan sebagainya.

Jadi masalahnya bukan terletak pada usia yang bertambah, melainkan pada cara kita memandang hidup. Kita selalu melihat ke masa lalu, atau ke masa depan yang belum tentu. Kita tidak hidup di saat ini. Tidak menikmati saja apa yang kita peroleh saat ini. Kita terlalu sibuk melihat ke masa lain, sehingga tidak melihat betapa indahnya hari yang sedang kita jalani.

Orang-orang sukses percaya bahwa saat terbaik dalam hidup adalah saat ini. Ketika masalah muncul, segera selesaikan hari ini, sebab esok persoalan lain telah menanti. Kalau kita membiarkan masalah bertumpuk-tumpuk, kita akan stress, dan inilah sumber rasa tidak bahagia, yang membuat kita menyalahkan waktu dan usia.

Waktu bagaikan pedang. Kalau kita tidak cepat melangkah, kita akan tertusuk dan berdarah. Sikap menunda-nunda membuat kita terseret kalah. Waktu luang adalah cobaan, kalau dilalaikan, yang akan terbit adalah penyesalan. Sebagai contoh, ketika ada tugas di kantor, atau ada bisnis yang perlu diurus, kita berkata, ”Ah, besok aja. Toh besok luang.” Besoknya, ”Duh, lagi males nih, besok aja deh, toh masih ada waktu.” Begitu seterusnya. Kita menunda-nunda, tahu-tahu waktu berlalu cepat, kita belum melakukan apa-apa, kita belum dapat apa-apa. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, usia bertambah, dan kita belum juga berubah. Kita masih berjalan di tempat yang sama, belum mengalami kemajuan apa-apa, kita merasa gagal, dan usia-lah yang disalahkan. ”Huah, sudah 35 masih saja kayak begini, gaji tidak naik-naik, rezeki sulit.” Nah!

Di saat kita merasa cemas dengan perubahan usia, sebetulnya kita sedang mencemaskan diri kita. Kemalasan kita, kelalaian kita, semangat yang lemah, sikap menunda-nunda. Semua itulah penyebab kekalahan, kegagalan, dan ketidakpuasan. Seperti kata profesor di atas, keinginan untuk kembali ke usia muda mencerminkan rasa tidak puas. Kalau kita merasa puas dengan hidup, merasa telah berbuat yang terbaik setiap waktu, takkan pernah terbersit untuk kembali ke masa lalu. Kita ingin terus melangkah ke masa depan, melakukan lebih banyak hal, mencetak pencapaian berikutnya, mengecap keberhasilan berikutnya. Semakin tua, kita semakin bersemangat, karena semakin banyak yang kita dapat. Seperti kata pepatah, makin tua makin ranum. Makin tua makin kaya dan bijaksana. Kaya di sini tidak selalu harus berarti materi, namun juga tabungan amal baik.

Sahabat, ada sebuah lagu yang selalu mengingatkan saya untuk tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Lagu ini dinyanyikan Simple Plan, dan sering saya hidupkan terutama bila sedang memberikan motivasi diri.

Procrastination running circles in my head

While you sit there contemplating

You wound up left for dead

Life is what happens while you're busy making your excuses

Another day, another casualty

But that won't happen to me

No, we're not gonna waste another moment in this town

And we won't come back

The world is calling out

We'll leave the past in the past

Gonna find the future

If misery loves company

Well, so long, you'll miss me when I'm gone

Yang artinya: ”Sikap menunda-nunda berputar di kepalaku. Saat kau duduk di sana mengeluh, kau terluka dan merapuh. Hidup adalah apa yang terjadi saat kau sibuk membuat banyak alasan. Makin hari kau makin jadi korban. Tapi itu tak akan terjadi padaku. Tidak, kita tidak akan membuang waktu lagi di sini. Dan kita juga takkan kembali. Dunia telah memanggil. Kita akan meninggalkan masa lalu, biarlah itu berlalu. Mari kita temukan masa depan. Bila penderitaan terus dibawa-bawa, ya sudah, selamat tinggal ya.”

Lagu ini mengajari kita satu hal: hindarilah sikap menyia-nyiakan waktu, yang akan membuat kita tidak puas dan ingin kembali ke masa lalu. Hiduplah di masa sekarang, hadapilah tantangan, dan jangan membuat banyak alasan. Kalau terlalu banyak alasan, tak satupun hal terbaik akan kita lakukan, dan kehidupan akan meninggalkan kita di belakang. Itulah kenapa saat usia bertambah, kita terpuruk dalam rasa kalah. Duh, jangan sampai!

Nah, sahabat.sebentar lagi usia saya bertambah satu. Jatah hidup saya di dunia berkurang satu, namun saya tidak ingin kembali ke masa muda. Karena apapun adanya kita saat ini, inilah hasil pencapaian kita selama ini. Usia tak ada hubungannya dengan keberhasilan, namun kerja keras kitalah yang menentukan. Apapun adanya diri kita saat ini, yeng terpenting adalah mensyukuri. Jangan sampai kita terlalu larut dalam lamunan, sehingga tidak sadar hidup ini sedang berjalan. Percayalah bahwa setiap fase usia yang kita lalui, selalu menggoreskan kisah. Jadikanlah itu kenangan indah. Kita sudah diberi waktu untuk sampai di usia sekarang, itu adalah anugerah. Tugas kita tinggal menjalani sisa usia dengan sebaik-baiknya. Dengan karya dan doa, juga amal baik untuk dipersembahkan kelak kepada-Nya.

Yuk bergembira menyambut pertambahan usia!

20 Mei 00.25 WIBB Kamar sunyi

My Favourite writer

Italian political thinker and historical figure at the turning point of the Middle Ages and the Modern World. Machiavelli stated in The Prince, the then revolutionary and prophetic idea, that theological and moral imperatives have no place in the political arena. "Men are always wicked at bottom unless they are made good by some compulsion." With Hobbes (1588-1679) Machiavelli is considered one of the great early modern analyzers of political power.
"Hence it is to be remarked that, in seizing a state, the usurper ought to examine closely into all those injuries which it is necessary for him to inflict, and to do them all at one stroke so as not to have to repeat them daily; and thus by not unsettling men he will be able to reassure them, and win them to himself by benefits. He who does otherwise, either from timidity or evil advice, is always compelled to keep the knife in his hand; neither can he rely on his subjects, nor can they attach themselves to him, owing to their continued and repeated wrongs. For injuries ought to be done all at one time, so that, being tasted less, they offend less; benefits ought to be given little by little, so that the flavour of them may last longer." (from The Prince, 1515)
Niccolò Machiavelli was born in Florence, Italy. Little is known of his early life, although he once described his background: "I was born in poverty and at an early age learned how to endure hardship rather than flourish." Niccolò's father, Bernardo di Niccolò di Buoninsegna, belonged to an impoverished branch of an influential old Florentine family. Bernardo was a lawyer and he had a small personal library that included books by Greek and Roman philosophers and volumes of Italian history. Bernardo died in 1500, Machiavelli's mother, Bartolomea de' Nelli, had died in 1496.
"Machiavelli went on to read the ancient philosophers and, especially, historians: Thucydides, who told of the war between Sparta and Athens that tore Greece apart; Plutarch, who told of the lives of the great statesmen, generals, and lawmakers of ancient Greece and Rome; Tacitus, who recounted the corruption and perfidy of Tiberius, Caligula, and Nero; and above all, the work by Livy..." (from Niccolò's Smile: A Biography of Machiavelli by Maurizio Viroli, 2000)
Machiavelli might have been involved in overthrowing the Savonarolist government in 1498 – Girolamo Savonarola was executed just outside his office. Machiavelli was appointed head of the new government's Second Chancery, and secretary of an agency concerned with warfare and diplomacy (1498-1512). During these years he travelled on several missions in Europe for the Republic of Florence visiting Cesare Borgia (1502), Rome (1503, 1506), France (1504) and Germany (1507-08). Among his achievement was helping to set up a standing army, which reconquered Pisa in 1509.
As a thinker Machiavelli belonged to an entire school of Florentine intellectuals concerned with the examination of political and historical problems. His important writings, however, were composed after 1512 when he was accused of conspiracy in 1513. The Medici family had returned to power and had ended a year before the Florentine Republic. Lorenzo de' Medici fired Machiavelli, the Secretary to the Second Chancery of the Signoria. He was suspected of plotting against the Medici, jailed, even tortured, and exiled to Sant'Andrea in Percussina. He found himself out of job after 14 years of patriotic service, and spent most of his remaining years on a small estate where he produced his major writings. He achieved some fame as a historian and playwright, but with The Prince he hoped to regain political favor. It tells how to gain, maintain, and centralize power.
In 1519 Machiavelli was partly reconciled with the Medici and was given various duties, including writing a history of Florence. When the Medici were deposed in 1527 Machiavelli hoped for a new government post. Now, however, he was distrusted by the republican government for previous association with the Medici.
Machiavelli died in Florence on June 21, 1527. Just a few weeks before his death, Rome fell to the poorly armed Spanish infantry. Machiavelli had foretold how such tragedy could be avoided but no one had listened to him.
Machiavelli's political writings became more widely known in the second half of the 16th century. In 1564, when considered dangerous, they were placed on the Church Index of officially banned books. Othello's ensign Iago in Shakespeare's play was partly based on the common misconception of Machiavelli as a cynical defender of fraud in statecraft. Machiavelli admired Cesare Borgia (1476-1507), an able ruler, who was ruthless and treacherous in war but a patron of artists, including Leonardo da Vinci.
Machiavelli's best known works are DISCORSI SOPRA LA PRIMA DECA DI TITO LIVIO (1531) and IL PRINCIPE (1532), whose main theme is that all means may be used in order to maintain authority, and that the worst acts of the ruler are justified by the treachery of the government. "There is nothing more difficult to take in hand, more perilous to conduct, or more uncertain in its success, than to take the lead in the introduction of a new order of things." (from The Prince, 1532) Many of Machiavelli's thoughts, as "it is much more secure to be feared, than to be loved" or "it is much safer for a prince to be feared than loved, if he is to fail in one of the two", have lived for centuries as slogans. And his notion "All armed prophets have conquered and unarmed ones failed" could be approved by contemporary fanatical religious leaders. Il Principe was condemned by the pope, but its viewpoints gave rise to the well-known adjective machiavellian, synonym for political maneuvers marked by cunning, duplicity, or bad faith. Machiavelli draws upon examples from both ancient and more recent history and also uses his own insight gained during his observation of the Italian city-states and France. What distinguishes Machiavelli's manual from other such works, is the originality and practicality of his thinking. Neither the attempts to interpret Machiavelli's ideas as first steps to democratic thought nor as examples of evil reflect a balanced view of his writing.
The interest in Machiavelli has continued, although contemporary scholarship may have its reservations about transforming his writings into prophecy or a manual of modern politics. However, in the United States Machiavelli's pragmatism has not been forgotten and Dick Morris, close to President Clinton, has written his own version of The Prince.
For further reading: Machiavelli by J.H. Whitfield (1947); Machiavelli and the Renaissance by Federico Chabod (1958); Machiavelli: A Dissection by Sidney Anglo (1970); Machiavelli and the Nature of Political Thought by Martin Fleischer (1972); Machiavelli by Quentin Skinner (1981); Niccolo Machiavelli, compiled by Silvia Fiore (1990); The Discourses of Niccolo Machiavelli (1991); Niccolo Machiavelli's the Price, ed. by Martin Coyle (1995); Machiavelli's Three Romes by Vickie B. Sullivan (1996); Machiavelli's Virtue by Harvey C. Mansfield (1996); Machiavelli, Leonardo, and the Science of Power by Roger D. Masters (1996); Machiavelli, ed. by John Dunn and Ian Harris (1997); Machiavelli and Us by Luis Althusser et al (1999); Niccolò's Smile by Maurizio Viroli (2000)

Love??

A man reserves his true and deepest love not for the species of woman in whose company he finds himself electrified and enkindled, but for that one in whose company he may feel tenderly drowsy.

Love never dies a natural death. It dies because we don't know how to replenish its source. It dies of blindness and errors and betrayals. It dies of illness and wounds; it dies of weariness, of witherings, of tarnishings.

You call it madness, but I call it love.

All life is an experiment. The more experiments you make the better.

Don't go around saying the world owes you a living. The world owes you nothing. It was here first...

is there anyone disagree with me??

SOME SAY LOVE IS LIKE WAITING 4 A BUS

Cinta itu sama seperti orang yg sedang menunggu bis

Sebuah bis datang, dan kamu bilang,

"Wah..terlalu penuh, sumpek, bakalan nggak bisa duduk nyaman neh!

Aku tunggu bis berikutnya aja deh."

Kemudian, bis berikutnya datang.

Kamu melihatnya dan berkata,

"Aduh bisnya kurang asik nih, nggak bagus lagi.. nggak mau ah.."

Bis selanjutnya datang, cool dan kamu berminat,

tapi seakan-akan dia tidak melihatmu dan lewat begitu saja.

Bis keempat berhenti di depan kamu.

Bis itu kosong, cukup bagus, tapi kamu bilang,

"Nggak ada AC nih, bisa kepanasan aku".

Maka kamu membiarkan bis keempat itu pergi.

Waktu terus berlalu,

kamu mulai sadar bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor.

Ketika bis kelima datang,

kamu sudah tak sabar,

kamu langsung melompat masuk ke dalamnya.

Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki bis.

Bis tersebut jurusannya bukan yang kamu tuju!

Dan kau baru sadar telah menyiakan waktumu sekian lama.

Moral dari cerita ini :

sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar 'ideal'

untuk menjadi pasangan hidupnya.

Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan kita.

Dan kamu pun sekali-kali tidak akan pernah bisa menjadi 100% sesuai

keinginan dia. Tidak ada salahnya memiliki 'persyaratan' untuk 'calon',

tapi tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di

depan kita.

Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang kita tuju.

Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat.

tapi kamu masih bisa berteriak 'Kiri' ! dan keluar dengan sopan.

Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu,

semuanya bergantung pada keputusanmu.

Daripada kita harus jalan kaki sendiri menuju kantormu,

dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi.

Cerita ini juga berarti,

kalau kebetulan kamu menemukan bis yang kosong,

kamu sukai dan bisa kamu percayai,

dan tentunya sejurusan dengan tujuanmu,

kamu dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis tersebut di

depanmu,

agar dia dapat memberi kesempatan kepadamu untuk masuk ke dalamnya.

Karena menemukan yang seperti itu

adalah suatu berkah yang sangat berharga dan sangat berarti.

Bagimu sendiri, dan bagi dia.

Lalu bis seperti apa yang kamu tunggu? :-)

Pernakah kamu merasakan, bahwa kamu mencintai seseorang, meski kamu tahu ia tak sendiri lagi, dan meski kamu tahu cintamu mungkin tak terbalas, tapi kamu tetap mencintainya,

Pernahkah kamu merasakan, bahwa kamu sanggup melakukan apa saja demi seseorang yang kamu cintai, meski kamu tahu ia takkan pernah peduli ataupun ia peduli dan mengerti, tapi ia tetap pergi.

Pernahkah kamu merasakan hebatnya cinta, tersenyum kala terluka, menangis kala bahagia, bersedih kala bersama, tertawa kala berpisah,

Aku pernah....

Aku pernah tersenyum meski ! kuterluka karena kuyakin Tuhan tak menjadikannya untukku, Aku pernah menangis kala bahagia, karena kutakut Kebahagiaan cinta ini akan sirma begitu saja,

Aku pernah bersedih kala bersamanya, karena kutakut aku kan kehilangan dia suatu saat nanti, dan....

Aku juga pernah tertawa saat berpisah dengannya, karena sekali lagi, cinta tak harus memiliki, dan Tuhan pasti telah menyiapkan cinta yang lain untukku.

Aku tetap bisa mencintainya, meski ia tak dapat kurengkuh dalam pelukanku, karena memang cinta ada dalam jiwa, dan bukan ada dalam raga.

Semua orang pasti pernah merasakan cinta…baik dari orangtua...sahabat. ..kekasih dan akhirnya pasangan hidupnya.

Buat temanku yang sedang jatuh cinta...selamat yah...karena cinta itu sangat indah. Semoga kalian selalu berbahagia.

Buat temanku yang sedang terluka ! karena cinta…Hidup itu bagaikan roda yang terus berputar, satu saat akan berada di bawah dan hidup terasa begitu sulit, tetapi keadaan itu tidak untuk selamanya, bersabarlah dan berdoalah karena cinta yang lain akan datang dan menghampirimu.

Buat temanku yang tidak percaya akan cinta...buka hatimu jangan menutup mata akan keindahan yang ada di dunia maka cinta membuat hidupmu menjadi bahagia.

Buat temanku yang mendambakan cinta...bersabarlah ....karena cinta yang indah tidak terjadi dalam sekejab.... Tuhan sedang mempersiapkan segala yang terbaik bagimu.

Buat temanku yang mempermainkan cinta.... Sesuatu yang begitu murni dan tulus bukanlah untuk dipermainkan. Cinta bukan suatu kehampaan. Smoga kalian berhenti mempermainkan cinta dan mulai merasakan kebahagiaan yang seutuhnya.



*

Being deeply loved by someone gives you strength, while loving someone deeply gives you courage.

Lao Tzu

*

As soon go kindle fire with snow, as seek to quench the fire of love with words.

William Shakespeare

*

Love can sometimes be magic. But magic can sometimes... just be an illusion.

Javan

*

Love does not begin and end the way we seem to think it does. Love is a battle, love is a war; love is a growing up.

James A. Baldwin

*

Love is an irresistible desire to be irresistibly desired.

Robert Frost

*

Love is like war: easy to begin but very hard to stop.

H. L. Mencken

A Girl

You're beautiful,

Just like a sunset.

Your eyes, your smile, your voice,

Are things i'll never forget.

Your perfect,

Just like a dream,

You make it all see right.

Avoiding every fight.

A person of peace, you are.

Stay, don't go to far.

Cause i need you near,

Losing you is my only fear.

Your a mixture,

Of all i ever wished for.

you're beautiful, kind, caring,

And I don't mean to sound greedy,

But you're something I'll never be caught sharing.

We are, each of us angels with only one wing; and we can only fly by embracing one another.

Luciano de Crescenzo...

Abah

ABAH IWAN : Seorang Pengelana Kehidupan by Oki Rahmat Mulyadi

August 30, 2007 by abahiwan

Saat remaja, saya hanya mengetahui Abah Iwan dari pergaulan para ‘budak leuweung’ yang setiap malam Minggu suka ‘ngapel bareng’ di daerah Jayagiri,

Lembang. Sambil “siduru” di depan api unggun kami sering melantunkan lagu-lagu ciptaan Abah Iwan, seperti “Melati Dari Jayagiri”, “Melati Putih” dan “Balada Seorang Kelana”. Setelah kuliah di Fakultas Pertanian UNPAD dan bergabung dengan Grup Pencinta Lagu (GPL), saya makin mengenal Abah Iwan secara

pribadi. Karena merasa sama-sama ‘budak leuweung’, saya merasa sangat “comfort” berteman dan menjadi adik dari Abah Iwan. Bagi saya, Abah Iwan adalah seorang sahabat dan kakak yang idealis, berkepribadian kuat,

berkemauan keras; sekaligus “romantis” dan sangat penuh dengan perasaan. Keras dalam kelembutan danlembut dalam kekerasan.

Seni adalah salah satu cara bagi beliau untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Seni adalah alat olah pikir dan olah rasa baginya. Dari setiap

dentingan gitar dan nada-nada yang dilantunkannya, Abah Iwan mampu memaknai berbagai arti kehidupan dengan indah, jelas dan menggugah hati. Lagu-lagu ciptaan Abah Iwan, hampir seluruhnya bersifat tematis dan memiliki rangkaian nada-nada indah yang mengandung arti yang sangat filosofis. Lagu-lagu Abah Iwan, adalah lagu pujian, lagu jeritan hati, lagu cinta sejati, lagu perjuangan dan lagu-lagu bagi pengelana kehidupan. Abah Iwan juga mampu mengolah seni sebagai sarana untuk membentuk kehalusan budi dan aktualisasi diri. Lagu-lagunya banyak yang memberikan motivasi spiritual dan menggugah empati seseorang terhadap nilai dan makna hakiki dari kehidupan. Lagu-lagu Abah Iwan adalah syair dan puisi spiritual bernada indah yang mampu menyentuh sanubari.

Abah Iwan adalah seorang yang memiliki “habit for going an extra mile” atau berjalan ‘seribu mil lebih sedepa’, lebih jauh dari yang dilakukan oleh orang

lain. Sikap dan prinsip untuk melakukan sesuatu lebih baik dari orang lain. Abah Iwan adalah ‘seorang tua’ berfisik prima yang mampu bersepeda hampir setiap hari dan menempuh jarak yang sangat jauh. Gerakan jurus-jurus silatnya juga masih sangat cekatan, spontan dan berisi. “Tong rarasaeun, tapi kudu karasa”, adalah filsafat ilmu silat yang suka dipakai Abah Iwan untuk mengartikan maksud dari tindakan ‘do it’. ‘Berlatih, berlatih dan berlatih’, itulah dorongan dan motivasi yang selalu beliau sampaikan kepada setiap anggota GPL. Abah Iwan juga adalah seorang moralis, filosofis dan “life tracker” atau pengelana dalam kehidupan. Selalu mencari arti dan hakikat sesungguhnya dari kehidupan. Sampai hari ini, Abah Iwan terus melakukan pemantauan dan pengamatan terhadap berbagai aspek kehidupan, sambil mengayuh sepedanya di jalan-jalan kota Bandung.

Bergaul dan bersahabat dengan Abah Iwan, banyak memberikan pelajaran, masukan dan wawasan bagi kehidupan diri saya pribadi. Khususnya, “how to become a better person each day”; bagaimana menjadi seseorang

yang selalu berupaya untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Abah Iwan adalah ‘pohon beringin yang besar dan kokoh’ yang meneduhi ‘rumput-rumput hijau’ dibawahnya, diantaranya adalah ‘rumput kecil’ seperti saya. Setiap kami bertemu, Abah Iwan tidak pernah segan dan bosan untuk mengutarakan berbagai pendapat, pandangan dan pemikirannya. Saya tidak bisa menjadi duplikat atau mencontoh kepribadian Abah Iwan sepenuhnya, tetapi setiap ucapan dan obrolan yang disampaikannya, selalu saya pelajari dan cerna untuk terus memperbaiki diri sendiri. Kata-kata bijak, bisa kita peroleh dari siapapun juga, bahkan dari seorang tukang becak tua yang kita anggap bodoh.

Hiduplah dalam kebenaran dan kesabaran : kandungan dari ayat Al ‘Ashr tersebut selalu disampaikan oleh Abah Iwan setiap kami akan berlatih di GPL. Waktu adalah anugerah Tuhan yang wajib disyukuri. Kita masih diberikan waktu untuk menjalani kehidupan ini dan isilah dengan setiap aspek kebenaran yang diperintahkan Tuhan. “Kita adalah orang yang merugi, jika tidak dapat mensyukuri dan memanfaatkan waktu secara benar” ujarnya kepada kami. Hiduplah dalam sikap yang positif, sehat, produktif, bermanfaat dan benar menurut agama. “Jika kau tidak mampu menjadi pohon yang besar, jadilah jalan setapak yang membawa orang menuju mata air”. Kalimat bijak dari Abah Iwan tersebut ternyata tertanam dalam diri kawan akrab saya, Kang Ulun, seorang anggota Wanadri. Jadilah kalian seseorang menurut kadar dan kemampuannya, untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

“Jadilah akar yang kuat, yang mampu menopang pohon besar hingga tumbuh subur dan tinggi”. Dalam bersosialisasi hendaknya kita selalu menyampaikan

kebenaran dan saling mengingatkan nilai-nilai hakiki dari kehidupan. Salah seorang sahabat Abah Iwan yang sangat dekat dan akrab dengan saya sampai akhir hayatnya adalah Army. Ia adalah seorang seniman, sarjana pertanian, mubaligh dan kawan yang santun serta penuh perhatian. Dengan sabar ia selalu mengingatkan dan membimbing saya kearah jalan agama dan kebenaran hakiki untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Saya merasakan berteman dengan Abah Iwan dan Army, telah banyak memberikan arti dan tuntunan bagi saya yang awalnya berpikiran dan bersikap sangat sekular.

Bekerja sungguh-dan bersabar : saat kami ‘kemping’ bersama di daerah Cicaruk, Situ Lembang, Bah Iwan pernah mengutarakan pendapat tentang keyakinannya

terhadap ayat-ayat surat Alam Nasyrah. “Saya yakin bahwa segala sesuatu yang kita anggap sulit pada awalnya, kelak akan menjadi mudah bagi kita”. Dibalik kesukaran, ada kemudahan. Di dalam tenda, saya terus

renungkan ucapannya tersebut. Terjadi dialog internal dalam pikiran saya untuk mencerna arti dari ayat ‘fa inna ma’al usri yusran’ yang baru kami diskusikan.

Mencangkul itu sulit, melelahkan dan membuat tangan menjadi lecet. Apakah sebagai kemudahannya, kita mungkin akan mendapatkan harta karun dari tanah yang kita gali? Tidak. Yang pasti, jika kita mau mencangkul, kita akan menjadi pencangkul dan petani yang baik. Itulah kemudahannya, kita akan memperoleh

manfaat langsung dari segala sesuatu yang kita kerjakan dengan sungguh-sungguh. Ketekunan dan pemahaman adalah buah dari kesabaran. Jangan

menganggap hal-hal yang kita kerjakan adalah sesuatu hal yang percuma. Lakukanlah pekerjaan yang orang lain segan dan malas untuk melakukannya. Jadilah orang yang penuh inisiatif dan bekerja dengan tekun serta sabar. Membaca not-not balok dan bermain piano, adalah pekerjaan yang membosankan, memeras konsentrasi dan membuat tangan menjadi pegal. Begitu juga jika kita memainkan gitar, memukul dogdog, melukis, menggergaji, menyapu kebun atau menulis buku. Semua adalah proses untuk melakukan ‘self improvement’. Pergi berkemah dengan Abah Iwan, bukan hal yang percuma, kita bisa mendapatkan banyak hal yang berguna bagi peningkatan kualitas diri kita.

Melakukan kaji ulang diri : atau “back azimuth” menurut istilah kerennya Bah Iwan. “Kita perlu mengkaji ulang terhadap apa-apa yang pernah dilakukan

oleh kita hingga saat ini” ujarnya saat berjalan pagi bersama di bukit Dago. Apakah yang telah kita lakukan masih “on the right track?”, atau telah mengalami

pergeseran esktrim dari tujuan yang kita inginkan sebelumnya. Apakah ada nilai dan manfaat hakiki yang telah kita peroleh selama perjalanan hidup kita?

Apakah kita terlalu sering lalai dan kurang bijak dalam menghadapi berbagai masalah hidup kita? Kita secara impulsif dan terburu-buru sering melakukan

tindakan “potong kompas” dalam mencapai tujuan kita. Padahal tujuan hakiki dari hidup kita hanyalah untuk mencapai keridhoan Tuhan.

Batas usia adalah suatu kepastian. Secara bijak, Abah Iwan mengajak kita,

khususnya teman-teman anggota GPL (Grup Pemuda Lansia, kata kang Ganjar Kurnia), untuk melakukan retrospeksi diri pada umur kita yang mulai senja. Banyak bertobat dan perbaiki kesalahan diri, selagi kita masih diberkahi usia.

Mendekatkan diri kepada Allah SWT : Alam terbuka adalah wahana yang sangat tepat dan ideal bagi Abah Iwan untuk melakukan kontemplasi diri dan pendekatan kepada Sang Maha Pencipta. Ditengah hutan Cicaruk,

pada malam hari Abah Iwan pernah mengajak saya mendengarkan dengan seksama ‘suara-suara alam yang sedang bertasbih’. Saat itu, benar-benar membuat saya menjadi ‘muringkak’ dan merasa sangat kecil dan lemah.

Alam begitu konsisten dan patuh memanjatkan pujian dan menjalankan setiap sunah Tuhan yang ditugaskan baginya. Setiap masuk waktu magrib, seluruh serangga di hutan Cicaruk melaksanakan ‘takbir’ hidmat, dengan

cara dan suaranya masing-masing. Bersyukurlah orang-orang yang mampu dekat dan belajar dari alam, karena disana juga tersirat berbagai ayat-ayat Illahi. Abah Iwan sesungguhnya adalah seorang “Nature Boy” yang selalu menyebarkan cinta dan kasih kepada setiap mahluk, untuk mendapatkan “God’s love in return”…

God bless you, Abah Iwan…

OKI RAHMAT MULYADI

Anggota GPL UNPAD