.......

Semua kehidupan ada dibawah payung yang Tuhan ciptakan yaitu langit
semua ini hanya untuk sekedar menghiasi apa yg ada dibawah payung tersebut agar terasa lebih indah pada waktunya
Ingatlah tak ada hal yang paling indah dari hidup selain kehidupan itu sendiri...hiaslah dan percayalah bahwa Tuhan akan selalu bersama kita

Rabu, 15 Desember 2010

PAGI......PADA SUATU PAGI HARI


Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

Jika jenuh, berkelanalah. Yang

pergi akan pulang, yang hilang tidak akan kembali

hmmm

Usia Kita, Pencapaian Kita

Dia yang melakukan hal terbaik sepanjang hidupnya

Takkan pernah merasa takut tua

Seorang kenalan memberi hadiah kepada saya. Sebuah buku berjudul ”Tuesdays with Morrie”. Dalam buku tersebut dikisahkan seorang profesor mengisi hari-hari terakhir hidupnya dengan mengajari mantan muridnya tentang berbagai makna kehidupan. Mereka bertemu setiap hari Selasa. Dalam setiap pertemuan, mereka berbicara banyak hal. Tentang pekerjaan, perkawinan, kematian, dan sebagainya. Suatu Selasa, topik yang dibahas adalah tentang usia.

”Pernahkah Anda merasa takut tua, Pak?” tanya sang murid.

Profesor tersenyum. ”Justru aku senang menjadi tua.”

”Senang?”

”Ya,” kata Profesor. ”Alasannya sederhana. Saat usiamu bertambah, kau makin banyak belajar. Kalau usiamu tetap remaja, kau akan terus cuek seperti ketika remaja. Dengan bertambahnya usia, kau tidak hanya menjadi rapuh, tapi juga tumbuh. Kau tidak hanya mendekati mati, tapi juga paham bahwa kau akan mati. Hidupmu menjadi lebih baik karena hal ini.”

”Benar,” kata sang murid. ”Tapi kalau menjadi tua itu menyenangkan, kenapa orang selalu bilang ’Oh, ingin sekali aku kembali muda.’ Tak ada orang yang pernah bilang, ’Oh, andai umurku 65.’”

Profesor tersenyum. ”Itu menunjukkan bahwa orang tersebut tidak puas dengan hidupnya. Hidupnya tidak bermakna. Sebab kalau hidupmu bermakna, kau takkan ingin kembali ke belakang. Kau ingin terus melangkah ke depan. Kau ingin melihat lebih banyak hal, melakukan lebih banyak hal. Kau takkan menundanya sampai usia 65.”

”Lalu, pernahkah Anda merasa iri kepada orang muda?”

”Tentu saja pernah. Tidak mungkin orang tua tidak merasa iri kepada yang muda. Orang muda bisa berjalan bebas, berenang sepuasnya, melakukan apapun yang mereka suka. Sedangkan orang tua sepertiku hanya bisa berbaring tak berdaya. Tapi yang harus kulakukan adalah menerima diri apa adanya. Aku harus bisa menemukan kebaikan dan keindahan dalam kehidupanku yang sekarang.”

Kemudian profesor tersebut melanjutkan, ”Aku pernah berusia 3 tahun, 5 tahun, 30 tahun, 50 tahun. Aku telah melewatinya dan tahu persis bagaimana rasanya. Aku senang ketika menjadi seorang anak, juga senang ketika menjadi orang dewasa yang bijak. Haruskah aku merasa iri pada usia muda bila aku sendiri pernah mengalaminya?”

Sang murid pun menganggukkan kepala.

***

Sahabat, ketika hari ulang tahun tiba, banyak orang menyambutnya dengan perasaan suka cita. Tapi tak sedikit yang justru diliputi gundah gulana. Bukan karena pikiran semacam, ”Duh, sebentar lagi hari jadi nih, harus nraktir padahal dompet sedang paceklik.” Namun karena kita tidak merasa istimewa dengan bertambahnya usia. ”Bagaimana saya akan merasa istimewa, bila di usia yang bertambah, kehidupan saya tak jua berubah?” Itulah mungkin yang mampir di benak kita.

Dalam rentang setahun, ada saat-saat kita merenungkan usia. Namun ada saat-saat kita enggan melakukannya. Kita merasa takut, cemas, gelisah menyadari waktu terus melesat, umur meningkat, sedang target keberhasilan belum juga didapat. ”Bagaimana ini? Umur tambah tua, belum punya apa-apa.” Kita jadi menyalahkan waktu yang tak mau berhenti berdetak barang sedetik saja. ”Andai aku bisa kembali ke masa muda, aku akan mulai dari awal dan memperbaiki semuanya.” Nah!

Banyak orang mengeluh tentang usia, karena merasa tidak puas dengan hidupnya. ”Aku sudah 25, belum juga dapat kerja.” ”Aku sudah 30, belum juga dapat jodoh.” ”Aku sudah 35, belum juga punya rumah.” ”Aku sudah 40, belum juga kaya raya.” ”Aku sudah 45, belum juga pensiun dini.” ”Aku sudah 50, belum juga naik haji.”

Semakin bertambah usia, kita merasa semakin terbebani. Oleh apa? Oleh harapan-harapan kita sendiri. Keinginan-keinginan kita sendiri.

Disadari atau tidak, kita membuat target-target dalam hati, bahwa kalau usia segini harus sudah punya ini. Ketika target tidak tercapai, kita merasa kecewa dan mulai berandai-andai. ”Andai aku kembali ke masa kecil, aku tak perlu capek mencari duit.” ”Andai aku kembali remaja, aku tak perlu pusing mikirin kerja.” ”Andai aku tetap anak kuliah, aku tak perlu capek mencari nafkah.”

Bertambahnya usia identik dengan bertambahnya tanggung jawab, dan kita kadang malas memikul tanggung jawab itu, atau bahkan merasa tidak mampu.

Sungguh ironis, karena kalau kita flashback ke masa lalu, terkadang kita juga merasa tidak nyaman di usia saat itu. Saat kanak-kanak, misalnya, kita ingin cepat besar agar bisa keluar rumah dan mengenal dunia. Saat remaja, kita ingin cepat dewasa agar bebas dari pergaulan canggung dan kekangan orang tua. Anehnya, ketika masa dewasa itu tiba, kita bukannya bergembira, malah ingin kembali muda. ”Sungguh indah masa-masa SMA dulu,” kita pun melamun. Padahal kalau mau jujur, masa SMA tidaklah seindah itu. Kita harus berurusan dengan guru yang galak, teman yang menyebalkan, gank yang menekan, kita merasa minder dengan penampilan, ditolak cinta, dan sebagainya.

Jadi masalahnya bukan terletak pada usia yang bertambah, melainkan pada cara kita memandang hidup. Kita selalu melihat ke masa lalu, atau ke masa depan yang belum tentu. Kita tidak hidup di saat ini. Tidak menikmati saja apa yang kita peroleh saat ini. Kita terlalu sibuk melihat ke masa lain, sehingga tidak melihat betapa indahnya hari yang sedang kita jalani.

Orang-orang sukses percaya bahwa saat terbaik dalam hidup adalah saat ini. Ketika masalah muncul, segera selesaikan hari ini, sebab esok persoalan lain telah menanti. Kalau kita membiarkan masalah bertumpuk-tumpuk, kita akan stress, dan inilah sumber rasa tidak bahagia, yang membuat kita menyalahkan waktu dan usia.

Waktu bagaikan pedang. Kalau kita tidak cepat melangkah, kita akan tertusuk dan berdarah. Sikap menunda-nunda membuat kita terseret kalah. Waktu luang adalah cobaan, kalau dilalaikan, yang akan terbit adalah penyesalan. Sebagai contoh, ketika ada tugas di kantor, atau ada bisnis yang perlu diurus, kita berkata, ”Ah, besok aja. Toh besok luang.” Besoknya, ”Duh, lagi males nih, besok aja deh, toh masih ada waktu.” Begitu seterusnya. Kita menunda-nunda, tahu-tahu waktu berlalu cepat, kita belum melakukan apa-apa, kita belum dapat apa-apa. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, usia bertambah, dan kita belum juga berubah. Kita masih berjalan di tempat yang sama, belum mengalami kemajuan apa-apa, kita merasa gagal, dan usia-lah yang disalahkan. ”Huah, sudah 35 masih saja kayak begini, gaji tidak naik-naik, rezeki sulit.” Nah!

Di saat kita merasa cemas dengan perubahan usia, sebetulnya kita sedang mencemaskan diri kita. Kemalasan kita, kelalaian kita, semangat yang lemah, sikap menunda-nunda. Semua itulah penyebab kekalahan, kegagalan, dan ketidakpuasan. Seperti kata profesor di atas, keinginan untuk kembali ke usia muda mencerminkan rasa tidak puas. Kalau kita merasa puas dengan hidup, merasa telah berbuat yang terbaik setiap waktu, takkan pernah terbersit untuk kembali ke masa lalu. Kita ingin terus melangkah ke masa depan, melakukan lebih banyak hal, mencetak pencapaian berikutnya, mengecap keberhasilan berikutnya. Semakin tua, kita semakin bersemangat, karena semakin banyak yang kita dapat. Seperti kata pepatah, makin tua makin ranum. Makin tua makin kaya dan bijaksana. Kaya di sini tidak selalu harus berarti materi, namun juga tabungan amal baik.

Sahabat, ada sebuah lagu yang selalu mengingatkan saya untuk tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Lagu ini dinyanyikan Simple Plan, dan sering saya hidupkan terutama bila sedang memberikan motivasi diri.

Procrastination running circles in my head

While you sit there contemplating

You wound up left for dead

Life is what happens while you're busy making your excuses

Another day, another casualty

But that won't happen to me

No, we're not gonna waste another moment in this town

And we won't come back

The world is calling out

We'll leave the past in the past

Gonna find the future

If misery loves company

Well, so long, you'll miss me when I'm gone

Yang artinya: ”Sikap menunda-nunda berputar di kepalaku. Saat kau duduk di sana mengeluh, kau terluka dan merapuh. Hidup adalah apa yang terjadi saat kau sibuk membuat banyak alasan. Makin hari kau makin jadi korban. Tapi itu tak akan terjadi padaku. Tidak, kita tidak akan membuang waktu lagi di sini. Dan kita juga takkan kembali. Dunia telah memanggil. Kita akan meninggalkan masa lalu, biarlah itu berlalu. Mari kita temukan masa depan. Bila penderitaan terus dibawa-bawa, ya sudah, selamat tinggal ya.”

Lagu ini mengajari kita satu hal: hindarilah sikap menyia-nyiakan waktu, yang akan membuat kita tidak puas dan ingin kembali ke masa lalu. Hiduplah di masa sekarang, hadapilah tantangan, dan jangan membuat banyak alasan. Kalau terlalu banyak alasan, tak satupun hal terbaik akan kita lakukan, dan kehidupan akan meninggalkan kita di belakang. Itulah kenapa saat usia bertambah, kita terpuruk dalam rasa kalah. Duh, jangan sampai!

Nah, sahabat.sebentar lagi usia saya bertambah satu. Jatah hidup saya di dunia berkurang satu, namun saya tidak ingin kembali ke masa muda. Karena apapun adanya kita saat ini, inilah hasil pencapaian kita selama ini. Usia tak ada hubungannya dengan keberhasilan, namun kerja keras kitalah yang menentukan. Apapun adanya diri kita saat ini, yeng terpenting adalah mensyukuri. Jangan sampai kita terlalu larut dalam lamunan, sehingga tidak sadar hidup ini sedang berjalan. Percayalah bahwa setiap fase usia yang kita lalui, selalu menggoreskan kisah. Jadikanlah itu kenangan indah. Kita sudah diberi waktu untuk sampai di usia sekarang, itu adalah anugerah. Tugas kita tinggal menjalani sisa usia dengan sebaik-baiknya. Dengan karya dan doa, juga amal baik untuk dipersembahkan kelak kepada-Nya.

Yuk bergembira menyambut pertambahan usia!

20 Mei 00.25 WIBB Kamar sunyi

My Favourite writer

Italian political thinker and historical figure at the turning point of the Middle Ages and the Modern World. Machiavelli stated in The Prince, the then revolutionary and prophetic idea, that theological and moral imperatives have no place in the political arena. "Men are always wicked at bottom unless they are made good by some compulsion." With Hobbes (1588-1679) Machiavelli is considered one of the great early modern analyzers of political power.
"Hence it is to be remarked that, in seizing a state, the usurper ought to examine closely into all those injuries which it is necessary for him to inflict, and to do them all at one stroke so as not to have to repeat them daily; and thus by not unsettling men he will be able to reassure them, and win them to himself by benefits. He who does otherwise, either from timidity or evil advice, is always compelled to keep the knife in his hand; neither can he rely on his subjects, nor can they attach themselves to him, owing to their continued and repeated wrongs. For injuries ought to be done all at one time, so that, being tasted less, they offend less; benefits ought to be given little by little, so that the flavour of them may last longer." (from The Prince, 1515)
Niccolò Machiavelli was born in Florence, Italy. Little is known of his early life, although he once described his background: "I was born in poverty and at an early age learned how to endure hardship rather than flourish." Niccolò's father, Bernardo di Niccolò di Buoninsegna, belonged to an impoverished branch of an influential old Florentine family. Bernardo was a lawyer and he had a small personal library that included books by Greek and Roman philosophers and volumes of Italian history. Bernardo died in 1500, Machiavelli's mother, Bartolomea de' Nelli, had died in 1496.
"Machiavelli went on to read the ancient philosophers and, especially, historians: Thucydides, who told of the war between Sparta and Athens that tore Greece apart; Plutarch, who told of the lives of the great statesmen, generals, and lawmakers of ancient Greece and Rome; Tacitus, who recounted the corruption and perfidy of Tiberius, Caligula, and Nero; and above all, the work by Livy..." (from Niccolò's Smile: A Biography of Machiavelli by Maurizio Viroli, 2000)
Machiavelli might have been involved in overthrowing the Savonarolist government in 1498 – Girolamo Savonarola was executed just outside his office. Machiavelli was appointed head of the new government's Second Chancery, and secretary of an agency concerned with warfare and diplomacy (1498-1512). During these years he travelled on several missions in Europe for the Republic of Florence visiting Cesare Borgia (1502), Rome (1503, 1506), France (1504) and Germany (1507-08). Among his achievement was helping to set up a standing army, which reconquered Pisa in 1509.
As a thinker Machiavelli belonged to an entire school of Florentine intellectuals concerned with the examination of political and historical problems. His important writings, however, were composed after 1512 when he was accused of conspiracy in 1513. The Medici family had returned to power and had ended a year before the Florentine Republic. Lorenzo de' Medici fired Machiavelli, the Secretary to the Second Chancery of the Signoria. He was suspected of plotting against the Medici, jailed, even tortured, and exiled to Sant'Andrea in Percussina. He found himself out of job after 14 years of patriotic service, and spent most of his remaining years on a small estate where he produced his major writings. He achieved some fame as a historian and playwright, but with The Prince he hoped to regain political favor. It tells how to gain, maintain, and centralize power.
In 1519 Machiavelli was partly reconciled with the Medici and was given various duties, including writing a history of Florence. When the Medici were deposed in 1527 Machiavelli hoped for a new government post. Now, however, he was distrusted by the republican government for previous association with the Medici.
Machiavelli died in Florence on June 21, 1527. Just a few weeks before his death, Rome fell to the poorly armed Spanish infantry. Machiavelli had foretold how such tragedy could be avoided but no one had listened to him.
Machiavelli's political writings became more widely known in the second half of the 16th century. In 1564, when considered dangerous, they were placed on the Church Index of officially banned books. Othello's ensign Iago in Shakespeare's play was partly based on the common misconception of Machiavelli as a cynical defender of fraud in statecraft. Machiavelli admired Cesare Borgia (1476-1507), an able ruler, who was ruthless and treacherous in war but a patron of artists, including Leonardo da Vinci.
Machiavelli's best known works are DISCORSI SOPRA LA PRIMA DECA DI TITO LIVIO (1531) and IL PRINCIPE (1532), whose main theme is that all means may be used in order to maintain authority, and that the worst acts of the ruler are justified by the treachery of the government. "There is nothing more difficult to take in hand, more perilous to conduct, or more uncertain in its success, than to take the lead in the introduction of a new order of things." (from The Prince, 1532) Many of Machiavelli's thoughts, as "it is much more secure to be feared, than to be loved" or "it is much safer for a prince to be feared than loved, if he is to fail in one of the two", have lived for centuries as slogans. And his notion "All armed prophets have conquered and unarmed ones failed" could be approved by contemporary fanatical religious leaders. Il Principe was condemned by the pope, but its viewpoints gave rise to the well-known adjective machiavellian, synonym for political maneuvers marked by cunning, duplicity, or bad faith. Machiavelli draws upon examples from both ancient and more recent history and also uses his own insight gained during his observation of the Italian city-states and France. What distinguishes Machiavelli's manual from other such works, is the originality and practicality of his thinking. Neither the attempts to interpret Machiavelli's ideas as first steps to democratic thought nor as examples of evil reflect a balanced view of his writing.
The interest in Machiavelli has continued, although contemporary scholarship may have its reservations about transforming his writings into prophecy or a manual of modern politics. However, in the United States Machiavelli's pragmatism has not been forgotten and Dick Morris, close to President Clinton, has written his own version of The Prince.
For further reading: Machiavelli by J.H. Whitfield (1947); Machiavelli and the Renaissance by Federico Chabod (1958); Machiavelli: A Dissection by Sidney Anglo (1970); Machiavelli and the Nature of Political Thought by Martin Fleischer (1972); Machiavelli by Quentin Skinner (1981); Niccolo Machiavelli, compiled by Silvia Fiore (1990); The Discourses of Niccolo Machiavelli (1991); Niccolo Machiavelli's the Price, ed. by Martin Coyle (1995); Machiavelli's Three Romes by Vickie B. Sullivan (1996); Machiavelli's Virtue by Harvey C. Mansfield (1996); Machiavelli, Leonardo, and the Science of Power by Roger D. Masters (1996); Machiavelli, ed. by John Dunn and Ian Harris (1997); Machiavelli and Us by Luis Althusser et al (1999); Niccolò's Smile by Maurizio Viroli (2000)

Love??

A man reserves his true and deepest love not for the species of woman in whose company he finds himself electrified and enkindled, but for that one in whose company he may feel tenderly drowsy.

Love never dies a natural death. It dies because we don't know how to replenish its source. It dies of blindness and errors and betrayals. It dies of illness and wounds; it dies of weariness, of witherings, of tarnishings.

You call it madness, but I call it love.

All life is an experiment. The more experiments you make the better.

Don't go around saying the world owes you a living. The world owes you nothing. It was here first...

is there anyone disagree with me??

SOME SAY LOVE IS LIKE WAITING 4 A BUS

Cinta itu sama seperti orang yg sedang menunggu bis

Sebuah bis datang, dan kamu bilang,

"Wah..terlalu penuh, sumpek, bakalan nggak bisa duduk nyaman neh!

Aku tunggu bis berikutnya aja deh."

Kemudian, bis berikutnya datang.

Kamu melihatnya dan berkata,

"Aduh bisnya kurang asik nih, nggak bagus lagi.. nggak mau ah.."

Bis selanjutnya datang, cool dan kamu berminat,

tapi seakan-akan dia tidak melihatmu dan lewat begitu saja.

Bis keempat berhenti di depan kamu.

Bis itu kosong, cukup bagus, tapi kamu bilang,

"Nggak ada AC nih, bisa kepanasan aku".

Maka kamu membiarkan bis keempat itu pergi.

Waktu terus berlalu,

kamu mulai sadar bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor.

Ketika bis kelima datang,

kamu sudah tak sabar,

kamu langsung melompat masuk ke dalamnya.

Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki bis.

Bis tersebut jurusannya bukan yang kamu tuju!

Dan kau baru sadar telah menyiakan waktumu sekian lama.

Moral dari cerita ini :

sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar 'ideal'

untuk menjadi pasangan hidupnya.

Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan kita.

Dan kamu pun sekali-kali tidak akan pernah bisa menjadi 100% sesuai

keinginan dia. Tidak ada salahnya memiliki 'persyaratan' untuk 'calon',

tapi tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di

depan kita.

Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang kita tuju.

Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat.

tapi kamu masih bisa berteriak 'Kiri' ! dan keluar dengan sopan.

Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu,

semuanya bergantung pada keputusanmu.

Daripada kita harus jalan kaki sendiri menuju kantormu,

dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi.

Cerita ini juga berarti,

kalau kebetulan kamu menemukan bis yang kosong,

kamu sukai dan bisa kamu percayai,

dan tentunya sejurusan dengan tujuanmu,

kamu dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis tersebut di

depanmu,

agar dia dapat memberi kesempatan kepadamu untuk masuk ke dalamnya.

Karena menemukan yang seperti itu

adalah suatu berkah yang sangat berharga dan sangat berarti.

Bagimu sendiri, dan bagi dia.

Lalu bis seperti apa yang kamu tunggu? :-)

Pernakah kamu merasakan, bahwa kamu mencintai seseorang, meski kamu tahu ia tak sendiri lagi, dan meski kamu tahu cintamu mungkin tak terbalas, tapi kamu tetap mencintainya,

Pernahkah kamu merasakan, bahwa kamu sanggup melakukan apa saja demi seseorang yang kamu cintai, meski kamu tahu ia takkan pernah peduli ataupun ia peduli dan mengerti, tapi ia tetap pergi.

Pernahkah kamu merasakan hebatnya cinta, tersenyum kala terluka, menangis kala bahagia, bersedih kala bersama, tertawa kala berpisah,

Aku pernah....

Aku pernah tersenyum meski ! kuterluka karena kuyakin Tuhan tak menjadikannya untukku, Aku pernah menangis kala bahagia, karena kutakut Kebahagiaan cinta ini akan sirma begitu saja,

Aku pernah bersedih kala bersamanya, karena kutakut aku kan kehilangan dia suatu saat nanti, dan....

Aku juga pernah tertawa saat berpisah dengannya, karena sekali lagi, cinta tak harus memiliki, dan Tuhan pasti telah menyiapkan cinta yang lain untukku.

Aku tetap bisa mencintainya, meski ia tak dapat kurengkuh dalam pelukanku, karena memang cinta ada dalam jiwa, dan bukan ada dalam raga.

Semua orang pasti pernah merasakan cinta…baik dari orangtua...sahabat. ..kekasih dan akhirnya pasangan hidupnya.

Buat temanku yang sedang jatuh cinta...selamat yah...karena cinta itu sangat indah. Semoga kalian selalu berbahagia.

Buat temanku yang sedang terluka ! karena cinta…Hidup itu bagaikan roda yang terus berputar, satu saat akan berada di bawah dan hidup terasa begitu sulit, tetapi keadaan itu tidak untuk selamanya, bersabarlah dan berdoalah karena cinta yang lain akan datang dan menghampirimu.

Buat temanku yang tidak percaya akan cinta...buka hatimu jangan menutup mata akan keindahan yang ada di dunia maka cinta membuat hidupmu menjadi bahagia.

Buat temanku yang mendambakan cinta...bersabarlah ....karena cinta yang indah tidak terjadi dalam sekejab.... Tuhan sedang mempersiapkan segala yang terbaik bagimu.

Buat temanku yang mempermainkan cinta.... Sesuatu yang begitu murni dan tulus bukanlah untuk dipermainkan. Cinta bukan suatu kehampaan. Smoga kalian berhenti mempermainkan cinta dan mulai merasakan kebahagiaan yang seutuhnya.



*

Being deeply loved by someone gives you strength, while loving someone deeply gives you courage.

Lao Tzu

*

As soon go kindle fire with snow, as seek to quench the fire of love with words.

William Shakespeare

*

Love can sometimes be magic. But magic can sometimes... just be an illusion.

Javan

*

Love does not begin and end the way we seem to think it does. Love is a battle, love is a war; love is a growing up.

James A. Baldwin

*

Love is an irresistible desire to be irresistibly desired.

Robert Frost

*

Love is like war: easy to begin but very hard to stop.

H. L. Mencken

A Girl

You're beautiful,

Just like a sunset.

Your eyes, your smile, your voice,

Are things i'll never forget.

Your perfect,

Just like a dream,

You make it all see right.

Avoiding every fight.

A person of peace, you are.

Stay, don't go to far.

Cause i need you near,

Losing you is my only fear.

Your a mixture,

Of all i ever wished for.

you're beautiful, kind, caring,

And I don't mean to sound greedy,

But you're something I'll never be caught sharing.

We are, each of us angels with only one wing; and we can only fly by embracing one another.

Luciano de Crescenzo...

Abah

ABAH IWAN : Seorang Pengelana Kehidupan by Oki Rahmat Mulyadi

August 30, 2007 by abahiwan

Saat remaja, saya hanya mengetahui Abah Iwan dari pergaulan para ‘budak leuweung’ yang setiap malam Minggu suka ‘ngapel bareng’ di daerah Jayagiri,

Lembang. Sambil “siduru” di depan api unggun kami sering melantunkan lagu-lagu ciptaan Abah Iwan, seperti “Melati Dari Jayagiri”, “Melati Putih” dan “Balada Seorang Kelana”. Setelah kuliah di Fakultas Pertanian UNPAD dan bergabung dengan Grup Pencinta Lagu (GPL), saya makin mengenal Abah Iwan secara

pribadi. Karena merasa sama-sama ‘budak leuweung’, saya merasa sangat “comfort” berteman dan menjadi adik dari Abah Iwan. Bagi saya, Abah Iwan adalah seorang sahabat dan kakak yang idealis, berkepribadian kuat,

berkemauan keras; sekaligus “romantis” dan sangat penuh dengan perasaan. Keras dalam kelembutan danlembut dalam kekerasan.

Seni adalah salah satu cara bagi beliau untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Seni adalah alat olah pikir dan olah rasa baginya. Dari setiap

dentingan gitar dan nada-nada yang dilantunkannya, Abah Iwan mampu memaknai berbagai arti kehidupan dengan indah, jelas dan menggugah hati. Lagu-lagu ciptaan Abah Iwan, hampir seluruhnya bersifat tematis dan memiliki rangkaian nada-nada indah yang mengandung arti yang sangat filosofis. Lagu-lagu Abah Iwan, adalah lagu pujian, lagu jeritan hati, lagu cinta sejati, lagu perjuangan dan lagu-lagu bagi pengelana kehidupan. Abah Iwan juga mampu mengolah seni sebagai sarana untuk membentuk kehalusan budi dan aktualisasi diri. Lagu-lagunya banyak yang memberikan motivasi spiritual dan menggugah empati seseorang terhadap nilai dan makna hakiki dari kehidupan. Lagu-lagu Abah Iwan adalah syair dan puisi spiritual bernada indah yang mampu menyentuh sanubari.

Abah Iwan adalah seorang yang memiliki “habit for going an extra mile” atau berjalan ‘seribu mil lebih sedepa’, lebih jauh dari yang dilakukan oleh orang

lain. Sikap dan prinsip untuk melakukan sesuatu lebih baik dari orang lain. Abah Iwan adalah ‘seorang tua’ berfisik prima yang mampu bersepeda hampir setiap hari dan menempuh jarak yang sangat jauh. Gerakan jurus-jurus silatnya juga masih sangat cekatan, spontan dan berisi. “Tong rarasaeun, tapi kudu karasa”, adalah filsafat ilmu silat yang suka dipakai Abah Iwan untuk mengartikan maksud dari tindakan ‘do it’. ‘Berlatih, berlatih dan berlatih’, itulah dorongan dan motivasi yang selalu beliau sampaikan kepada setiap anggota GPL. Abah Iwan juga adalah seorang moralis, filosofis dan “life tracker” atau pengelana dalam kehidupan. Selalu mencari arti dan hakikat sesungguhnya dari kehidupan. Sampai hari ini, Abah Iwan terus melakukan pemantauan dan pengamatan terhadap berbagai aspek kehidupan, sambil mengayuh sepedanya di jalan-jalan kota Bandung.

Bergaul dan bersahabat dengan Abah Iwan, banyak memberikan pelajaran, masukan dan wawasan bagi kehidupan diri saya pribadi. Khususnya, “how to become a better person each day”; bagaimana menjadi seseorang

yang selalu berupaya untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Abah Iwan adalah ‘pohon beringin yang besar dan kokoh’ yang meneduhi ‘rumput-rumput hijau’ dibawahnya, diantaranya adalah ‘rumput kecil’ seperti saya. Setiap kami bertemu, Abah Iwan tidak pernah segan dan bosan untuk mengutarakan berbagai pendapat, pandangan dan pemikirannya. Saya tidak bisa menjadi duplikat atau mencontoh kepribadian Abah Iwan sepenuhnya, tetapi setiap ucapan dan obrolan yang disampaikannya, selalu saya pelajari dan cerna untuk terus memperbaiki diri sendiri. Kata-kata bijak, bisa kita peroleh dari siapapun juga, bahkan dari seorang tukang becak tua yang kita anggap bodoh.

Hiduplah dalam kebenaran dan kesabaran : kandungan dari ayat Al ‘Ashr tersebut selalu disampaikan oleh Abah Iwan setiap kami akan berlatih di GPL. Waktu adalah anugerah Tuhan yang wajib disyukuri. Kita masih diberikan waktu untuk menjalani kehidupan ini dan isilah dengan setiap aspek kebenaran yang diperintahkan Tuhan. “Kita adalah orang yang merugi, jika tidak dapat mensyukuri dan memanfaatkan waktu secara benar” ujarnya kepada kami. Hiduplah dalam sikap yang positif, sehat, produktif, bermanfaat dan benar menurut agama. “Jika kau tidak mampu menjadi pohon yang besar, jadilah jalan setapak yang membawa orang menuju mata air”. Kalimat bijak dari Abah Iwan tersebut ternyata tertanam dalam diri kawan akrab saya, Kang Ulun, seorang anggota Wanadri. Jadilah kalian seseorang menurut kadar dan kemampuannya, untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

“Jadilah akar yang kuat, yang mampu menopang pohon besar hingga tumbuh subur dan tinggi”. Dalam bersosialisasi hendaknya kita selalu menyampaikan

kebenaran dan saling mengingatkan nilai-nilai hakiki dari kehidupan. Salah seorang sahabat Abah Iwan yang sangat dekat dan akrab dengan saya sampai akhir hayatnya adalah Army. Ia adalah seorang seniman, sarjana pertanian, mubaligh dan kawan yang santun serta penuh perhatian. Dengan sabar ia selalu mengingatkan dan membimbing saya kearah jalan agama dan kebenaran hakiki untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Saya merasakan berteman dengan Abah Iwan dan Army, telah banyak memberikan arti dan tuntunan bagi saya yang awalnya berpikiran dan bersikap sangat sekular.

Bekerja sungguh-dan bersabar : saat kami ‘kemping’ bersama di daerah Cicaruk, Situ Lembang, Bah Iwan pernah mengutarakan pendapat tentang keyakinannya

terhadap ayat-ayat surat Alam Nasyrah. “Saya yakin bahwa segala sesuatu yang kita anggap sulit pada awalnya, kelak akan menjadi mudah bagi kita”. Dibalik kesukaran, ada kemudahan. Di dalam tenda, saya terus

renungkan ucapannya tersebut. Terjadi dialog internal dalam pikiran saya untuk mencerna arti dari ayat ‘fa inna ma’al usri yusran’ yang baru kami diskusikan.

Mencangkul itu sulit, melelahkan dan membuat tangan menjadi lecet. Apakah sebagai kemudahannya, kita mungkin akan mendapatkan harta karun dari tanah yang kita gali? Tidak. Yang pasti, jika kita mau mencangkul, kita akan menjadi pencangkul dan petani yang baik. Itulah kemudahannya, kita akan memperoleh

manfaat langsung dari segala sesuatu yang kita kerjakan dengan sungguh-sungguh. Ketekunan dan pemahaman adalah buah dari kesabaran. Jangan

menganggap hal-hal yang kita kerjakan adalah sesuatu hal yang percuma. Lakukanlah pekerjaan yang orang lain segan dan malas untuk melakukannya. Jadilah orang yang penuh inisiatif dan bekerja dengan tekun serta sabar. Membaca not-not balok dan bermain piano, adalah pekerjaan yang membosankan, memeras konsentrasi dan membuat tangan menjadi pegal. Begitu juga jika kita memainkan gitar, memukul dogdog, melukis, menggergaji, menyapu kebun atau menulis buku. Semua adalah proses untuk melakukan ‘self improvement’. Pergi berkemah dengan Abah Iwan, bukan hal yang percuma, kita bisa mendapatkan banyak hal yang berguna bagi peningkatan kualitas diri kita.

Melakukan kaji ulang diri : atau “back azimuth” menurut istilah kerennya Bah Iwan. “Kita perlu mengkaji ulang terhadap apa-apa yang pernah dilakukan

oleh kita hingga saat ini” ujarnya saat berjalan pagi bersama di bukit Dago. Apakah yang telah kita lakukan masih “on the right track?”, atau telah mengalami

pergeseran esktrim dari tujuan yang kita inginkan sebelumnya. Apakah ada nilai dan manfaat hakiki yang telah kita peroleh selama perjalanan hidup kita?

Apakah kita terlalu sering lalai dan kurang bijak dalam menghadapi berbagai masalah hidup kita? Kita secara impulsif dan terburu-buru sering melakukan

tindakan “potong kompas” dalam mencapai tujuan kita. Padahal tujuan hakiki dari hidup kita hanyalah untuk mencapai keridhoan Tuhan.

Batas usia adalah suatu kepastian. Secara bijak, Abah Iwan mengajak kita,

khususnya teman-teman anggota GPL (Grup Pemuda Lansia, kata kang Ganjar Kurnia), untuk melakukan retrospeksi diri pada umur kita yang mulai senja. Banyak bertobat dan perbaiki kesalahan diri, selagi kita masih diberkahi usia.

Mendekatkan diri kepada Allah SWT : Alam terbuka adalah wahana yang sangat tepat dan ideal bagi Abah Iwan untuk melakukan kontemplasi diri dan pendekatan kepada Sang Maha Pencipta. Ditengah hutan Cicaruk,

pada malam hari Abah Iwan pernah mengajak saya mendengarkan dengan seksama ‘suara-suara alam yang sedang bertasbih’. Saat itu, benar-benar membuat saya menjadi ‘muringkak’ dan merasa sangat kecil dan lemah.

Alam begitu konsisten dan patuh memanjatkan pujian dan menjalankan setiap sunah Tuhan yang ditugaskan baginya. Setiap masuk waktu magrib, seluruh serangga di hutan Cicaruk melaksanakan ‘takbir’ hidmat, dengan

cara dan suaranya masing-masing. Bersyukurlah orang-orang yang mampu dekat dan belajar dari alam, karena disana juga tersirat berbagai ayat-ayat Illahi. Abah Iwan sesungguhnya adalah seorang “Nature Boy” yang selalu menyebarkan cinta dan kasih kepada setiap mahluk, untuk mendapatkan “God’s love in return”…

God bless you, Abah Iwan…

OKI RAHMAT MULYADI

Anggota GPL UNPAD

Doa Seorang Jenderal Tempur untuk Putranya

Tuhanku…

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui
kelemahannya. Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam
ketakutan.

Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan.

Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan.

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan
cita-citanya dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.

Seorang Putera yang sadar bahwa mengenal Engkau dan dirinya sendiri
adalah landasan segala ilmu pengetahuan.

Tuhanku…

Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak.
Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan
dan tantangan.

Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan
senantiasa belajar
untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.

Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi, sanggup memimpin
dirinya sendiri, sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.

Berikanlah hamba seorang putra yang mengerti makna tawa ceria tanpa
melupakan makna tangis duka.

Putera yang berhasrat untuk menggapai masa depan yang cerah

namun tak pernah melupakan masa lampau.

Dan, setelah semua menjadi miliknya…

Berikan dia cukup rasa humor sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh
namun tetap mampu menikmati hidupnya.

Tuhanku…

Berilah ia kerendahan hati…

Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki…

Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna…

Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud, hamba, ayahnya, dengan
berani berkata “hidupku tidaklah sia-sia”

———

Sahabat, doa yang ditulis oleh Jenderal Douglas MacArthur ini adalah doa,
pengharapan sekaligus pembelajaran yang luar biasa. Kemenangan2 besar
terhormat dan konstruktif hanya bisa dicapai oleh pribadi-pribadi yang
fundamentalitas karakternya sudah terbentuk. Pribadi yang tetap rendah hati
dengan segala yang telah dicapainya dan pribadi yang ber-Tuhan.

Di medan tempur perang dunia ke-II, mei 1952
Jenderal Tempur Douglas Mc. Arthur "The Ming of Merciless

Perempuan

Dia yang diambil dari tulang rusuk. Jika Tuhan memersatukan dua orang

yang berlawanan sifatnya, maka itu akan menjadi saling melengkapi.

Dialah penolongmu yang sepadan, bukan lawan yang sepadan. Ketika

pertandingan dimulai, dia tidak berhadapan denganmu untuk melawanmu,

tetapi dia akan berada bersamamu untuk berjaga-jaga di belakang saat

engkau berada di depan, atau segera mengembalikan bola ketika bola itu

terlewat olehmu, dialah yang akan menutupi kekuranganmu.

Dia ada untuk melengkapi yang tak ada dalam laki-laki : perasaan, emosi,

kelemahlembutan, keluwesan, keindahan, kecantikan, rahim untuk

melahirkan, mengurusi hal-hal yang kadang dianggap sepele.

Hingga ketika kau tidak mengerti hal-hal itu, dialah yang akan

menyelesaikan bagiannya. Sehingga tanpa kau sadari ketika menjalankan

sisa hidupmu... kau menjadi lebih kuat karena kehadirannya di sisimu. Jika

ada makhluk yang sangat bertolak belakang, kontras dengan lelaki, itulah

perempuan. Jika ada makhluk yang sanggup menaklukkan hati hanya dengan

sebuah senyuman, itulah perempuan.

Ia tidak butuh argumentasi hebat dari seorang laki-laki, tetapi ia butuh

jaminan rasa aman darinya karena ia ada untuk dilindungi, tidak hanya

secara fisik tetapi juga emosi. Ia tidak tertarik kepada fakta-fakta yang

akurat, bahasa yang teliti dan logis yang bisa disampaikan secara detail

dari seorang laki-laki, tetapi yang ia butuhkan adalah perhatiannya, katakata

yang lembut, ungkapan-ungkapan sayang yang sepele, namun baginya

sangat berarti, membuatnya aman di dekatmu.

Batu yang keras dapat terkikis habis oleh air yang luwes, sifat laki-laki

yang keras ternetralisir oleh kelembutan perempuan. Rumput yang lembut

tidak mudah tumbang oleh badai dibandingkan dengan pohon yang besar

dan rindang, seperti juga di dalam kelembutannya di situlah terletak

kekuatan dan ketahanan yang membuatnya bisa bertahan dalam situasi

apapun.

Ia lembut bukan untuk diinjak, rumput yang lembut akan dinaungi oleh

pohon yang kokoh dan rindang. Jika lelaki berpikir tentang perasaan

perempuan, itu sepersekian dari hidupnya. Tetapi jika perempuan berpikir

tentang perasaan lelaki, itu akan menyita seluruh hidupnya.

Karena perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki- laki, karena

perempuan adalah bagian dari laki-laki, apa yang menjadi bagian dari

hidupnya, akan menjadi bagian dari hidupmu. Keluarganya akan menjadi

keluarga barumu, keluargamu pun akan menjadi keluarganya juga. Sekalipun

ia jauh dari keluarganya, namun ikatan emosi kepada keluarganya tetap ada

karena ia lahir dan dibesarkan di sana. Karena mereka, ia menjadi seperti

sekarang ini. Perasaannya terhadap keluarganya, akan menjadi bagian dari

perasaanmu juga, karena kau dan dia adalah satu, dia adalah dirimu yang

tak ada sebelumnya.

Ketika pertandingan dimulai, pastikan dia ada di bagian lapangan yang sama denganmu

Kisah Buah apel.....

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang
bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.
Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya,
tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat
mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak
kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan
tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini
bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil
yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.”Aku ingin
sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”

Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau
boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang
untuk membeli mainan kegemaranmu.” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu
memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.
Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu
kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya
datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya
waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami
membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” Duh, maaf
aku pun tak memiliki rumah.

Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata
pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon
apel itu dan pergi dengan gembira.Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat
anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon
apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa
sangat bersuka cita menyambutnya.”Ayo bermain-main lagi denganku,” kata
pohon apel.”Aku sedih,” kata anak lelaki itu.”Aku sudah tua dan ingin hidup
tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah
kapal untuk pesiar?”

“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan
menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan
bersenang-senanglah.”

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal
yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui
pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf
anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi
untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah
apelmu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon
apel.”Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.”Aku
benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang
tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon
apel itu sambil menitikkan air mata.

“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki.
“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah
sekian lama meninggalkanmu.” “Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar
pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari,
marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.

Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

NOTE :
Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika
kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita
memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita
akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk
membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah
bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita
memperlakukan orang tua kita.

Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita.
Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan
berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada
kita....

hmm....

The Seven Habits of Highly Effective People by Stephen R. Covey

1 . Be Proactive (Bersikap Proaktif).
Dalam menghadapi suatu masalah, kita bisa memilih untuk bersikap a) reaktif atau b) proaktif. Bila kita cenderung menyalahkan orang lain atau keadaan yang sulit, maka kita bersikap reaktif. Sementara proaktif adalah sikap bertanggung jawab atas setiap aspek dalam kehidupan kita, yang selanjutnya membuat kita mengambil inisiatif dan tindakan. Intinya, dengan bersikap proaktif, kita tidak membiarkan diri kita terhanyut oleh keadaan, tetapi justru kita yang berusaha mengendalikan keadaan. Dalam konsep "stimulus dan respons", keadaan adalahstimulus yang tidak dapat dikendalikan, tetapi manusia mempunyai daya untuk memilih respons apa yang akan dia ambil.

2. Begin with the End In Mind (Memulai dengan Tujuan di Pikiran).
Banyak orang memiliki cita-cita, tetapi sedikit yang mampu membayangkan (memvisualisasikan) dan menuangkan visi hidupnya itu dalam suatu pernyataan. Dengan membuat "Pernyataan Misi Pribadi", kita dibantu untuk berkonsentrasi dan mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi apa yang akan dihadapi sebelum kita bertindak.

3. Put First Things First (Dahulukan Yang Utama).
Kita harus mempunyai skala prioritas untuk tujuan-tujuan jangka pendek, dengan tidak melupakan tugas-tugas yang walaupun terlihat tidak mendesak tetapi ternyata penting. Dengan sempitnya waktu, seorang pemimpin harus mampu mendelegasikan sebagian tugasnya. Pendelegasian tersebut akan efektif bila sejak awal ada kesepakatan hasil yang ingin dituju, jadi bukan semata rincian rencana kerja dari atas.

Kebiasaan 1- 3 merupakan kebiasaan yang berhubungan dengan diri sendiri untuk membangun karakter pribadi.

4. Think Win/Win (Berpikir Menang-Menang)
Bila kita terbiasa memikirkan solusi yang saling menguntungkan (win-win solution) bagi kedua belah pihak, maka kita dapat meningkatkan hubungan kerjasama yang lebih efektif dalam mencapai tujuan.

5. Seek First to Understand, Then to be Understood (Mengerti Dulu, Baru Dimengerti).
Bila kita memberi suatu nasehat tanpa berempati atau tanpa memahami situasi orang tersebut, maka kemungkinan besar nasehat tersebut akan ditolak atau tidak berguna. Maka biasakan untuk "paham dulu baru bicara" agar komunikasi berjalan dengan efektif.

6. Synergize ( Sinergi)
Berusahalah untuk mencapai sinergi positif bila bekerja dalam team. Intisarinya adalah perbedaan nilai-nilai yang ada harus a) dihormati, b) dibangun kekuatannya, dan c) dikompensasi kelemahannya. Galilah potensi dan kontribusi setiap anggota team. Jika sinergi dapat dicapai, maka hasil satu team lebih besar daripada hasil anggota bila bekerja sendiri-sendiri.

Kebiasaan 4,5,6 berhubungan dengan publik, yang diwujudkan dengan menguasai komunikasi dan kerjasama yang efektif dengan orang lain.

7. Sharpen the saw (Pertajam Gergaji)
Kebiasaan ini berfokus pada pembaharuan diri secara mental, fisik, emosional/sosial dan spiritual yang seimbang. Untuk dapat terus produktif, seseorang juga harus menyegarkan dirinya dengan memiliki aktivitas-aktivitas rekreasi.

Orang bodoh VS Orang pinter

Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya berbisnis...
Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang pintar.
Walhasil boss-nya orang pintar adalah orang bodoh.

Orang bodoh sering melakukan kesalahan,
maka dia rekrut orang pintar yang
tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah.
Walhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.

Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah untuk selanjutnya
mencari kerja. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk
membayari proposal yang diajukan orang pintar.

Orang bodoh tidak bisa membuat teks pidato,
maka dia menyuruh orang pintar untuk membuatnya.

Orang bodoh kayaknya susah untuk lulus sekolah hukum (SH).
oleh karena itu orang bodoh memerintahkan orang pintar
untuk membuat undang-undangnya orang bodoh.

Orang bodoh biasanya jago cuap-cuap jual omongan,
sementara itu orang pintar percaya.
Tapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang bodoh.
Tapi toh saat itu orang bodoh sudah ada di atas.

Orang bodoh berpikir pendek untuk memutuskan sesuatu yang dipikirkan
panjang-panjang oleh orang pintar. Walhasil orang orang pintar menjadi
staf-nya orang bodoh.

Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan,
dia PHK orang-orang pintar yang berkerja.
Tapi orang-orang pintar DEMO. Walhasil orang-orang pintar
'meratap-ratap' kepada orang bodoh agar tetap diberikan pekerjaan.

Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pinter akan menghabiskan waktu
untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan
waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.

Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa di jadikan duit.
Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan.

Bill gate (Microsoft), Dell, Hendri (Ford),
Thomas Alfa Edison, Tommy Suharto, Liem Siu Liong (BCA group).
Adalah contoh orang-orang yang tidak pernah dapat S1), tapi kemudian menjadi kaya.
Ribuan orang-orang pintar bekerja untuk mereka.
Dan puluhan ribu jiwa keluarga orang pintar bergantung pada orang bodoh.


PERTANYAAN :
Mendingan jadi orang pinter atau orang bodoh??
Pinteran mana antara orang pinter atau orang bodoh ???
Mana yang lebih mulia antara orang pinter atau orang bodoh??
Mana yang lebih susah, orang pinter atau orang bodoh??


KESIMPULAN:
Jangan lama-lama jadi orang pinter,
lama-lama tidak sadar bahwa dirinya telah dibodohi oleh orang bodoh.

Jadilah orang bodoh yang pinter dari pada jadi orang pinter yang bodoh.
Kata kunci nya adalah 'resiko' dan 'berusaha',
karena orang bodoh perpikir pendek maka dia bilang resikonya kecil,
selanjutnya dia berusaha agar resiko betul-betul kecil.
Orang pinter berpikir panjang maka dia bilang resikonya besar untuk
selanjutnya dia tidak akan berusaha mengambil resiko tersebut.
Dan mengabdi pada orang bodoh...

Dimanakah posisi anda saat ini...
Berhentilah meratapi keadaan anda yang sekarang...

Ini hanya sebuah Refleksi dari semua Retorika dan Dinamika kehidupan.
Semua Pilihan dan Keputusan ada ditangan anda untuk merubahnya,
Lalu perhatikan apa yang terjadi...